Perebutan Ketua PPP Jawa Barat Dimulai

oleh -5 views
foto: imam bukhori RESMI. Wakil Ketua Umum DPP PPP Chozin Chumaidy memukul gong sebagai tanda pembukaan Muswil ke-VI PPP Jawa Barat, di Hotel Zamrud, Selasa (22/2).

foto: imam bukhori RESMI. Wakil Ketua Umum DPP PPP Chozin Chumaidy memukul gong sebagai tanda pembukaan Muswil ke-VI PPP Jawa Barat, di Hotel Zamrud, Selasa (22/2).

CIREBON– Dengan ditandai pemukulan gong sebanyak lima kali oleh Wakil Ketua Umum DPP PPP, Chozin Chumaidy, musyawarah wilayah (muswil) ke VI Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Barat di hotel Zamrud resmi dibuka, Selasa (22/2).
Pembukaan muswil tersebut juga dihadiri jajaran pengurus DPP PPP, Ketua DPW PPP Jawa Barat, H Nu’man Abdul Hakim beserta jajaran pengurus, ketua partai politik Jawa Barat, Walikota Subardi, dan Kepala Badan Koo­r­dinasi Pembangunan dan Pemerintahan (BKPP) wilayah III Jawa Barat, Drs H Ano Sutrisno MM yang mewakili gubernur Jawa Barat.
Menurut ketua panitia muswil, Drs H Tatang Farhanul Hakim MPd, kegiatan muswil ke-VI PPP juga diikuti dengan kegiatan hari jadi (harlah) ke-38 PPP. Dalam rangkain kegiatan muswil dan harlah, dilakukan kunjungan ke pesantren Buntet dan Ciwaringin dengan menggelar pertemuan dengan kiai dan alim ulama. “Kegiatan tersebut untuk melekatkan silaturahmi dengan alim ulama dan kiai sebagai pendukung utama PPP,” kata dia kepada Radar, kemarin (22/2).
Sedangkan, Ketua DPW PPP Jawa Barat, H Nu’man Abdul Hakim mengucapkan terima kasih kepada seluruh sesepuh, pendukung, simpatisan partai, dan masyarakat yang mendukung PPP hingga saat ini sehingga tetap menjadi pilihan masyarakat. “Saya juga mengucapkan terima kasih kepada insan pers baik cetak maupun elektronik atas kontribusinya untuk perkembangan PPP,” tegas dia.
Lebih lanjut, mantan wakil gubernur Jawa Barat ini mengungkapkan kepengurusan DPW PPP periode 2006-2011 telah berada di ujung periode. Sehingga dalam muswil kali ini diharapkan bisa mengevaluasi secara obyektif dan proporsional, sehingga bisa melihat kekurangan dengan bijak dan memandang seluruh kelebihan. “Diharapkan muswil ini bisa melakukan perubahan di beberapa aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ungkapnya.
Nu’man menyatakan saat ini ada dua kader terbaik yang bersaing untuk menjadi ketua DPW PPP Jawa Barat yang kebetulan sama-sama bupati, yakni di Tasikmalaya dan di Bogor. Namun demikian, dia berharap agar kedua calon tersebut harus berkompetisi secara sehat dan tidak melakukan cara yang tidak terpuji.
Sementara, Wakil Ketua Umum DPP PPP Chozin Chumaidy, berharap kegiatan muswil hendaknya jangan hanya untuk mengganti ketua saja. Tetapi harus digunakan untuk introspeksi dan mawas diri dengan melihat kekurangan yang ada.
“Selanjutnya melalui muswil ini bisa memunculkan ide segar untuk membangun PPP sebagai satu-satunya partai Islam yang konsisten dengan azas Islam. Selain itu, kita harus membangkitkan PPP dan membangun PPP di Jawa Barat untuk menyongsong keberhasilan pada pemilu 2014 mendatang,” tegasnya.
Lebih lanjut, dia juga me­nyatakan bahwa Cirebon adalah kota wali tempat para kiai dan pesantren besar berada. Diharapkan dengan menggelar muswil di Cirebon bisa memberikan kontribusi suara yang besar bagi PPP. Sebab, pada zaman dulu Jawa Barat memiliki segitiga emas suara PPP yakni Cirebon, Tasikmalaya, dan Banten yang sekarang menjadi provinsi sendiri.
“Jawa Barat memberikan kon­tribusi yang besar dalam perolehan suara dan anggota DPR RI. Pada pemilu 1977 menumbangkan 14 anggota dewan, tahun 1997 18 orang 3 di antaranya dari Cirebon. Bahkan pada tahun 1999 pada saat reformasi masih mampu menyumbangkan 13 suara begitu juga pada pemilu 2004 yang memperoleh 13 anggota DPR RI,” turur dia.
Namun pada pemili 2009 lalu, wakil rakyat dari Cirebon baik DPRD kabupaten, provinsi, dan pusat tidak ada sehingga sungguh tragis dan ironis. Hal ini disebabkan tantangan pemuli 2009 lebih berat dan ada mekanisme pemilihan yang baru. “Namun diharapkan pada pemilu 2014 kita harus berjuang dan berikhtiar untuk bisa mengembalikan suara di Jawa Barat maupun di Cirebon,” tandas Ghozin.
Sejak reformasi bergulir, banyak etika politik yang telah berubah mulai dari politik pramagtisme hingga oportunis. Sehingga bila hal ini dibiarkan akan akan merusak sendi kehidupan masayarakat dan mendegrasi dunia politik di Indonesia.(mam)