Dua Kota Terendam Lumpur

oleh -53 views
SISA KEHANCURAN. Reruntuhan pesawat dan mobil Minggu (13/3) masih terlihat setelah disapu tsunami menyusul gempa bumi dekat bandara Sendai di Jepang bagian Utara.

SISA KEHANCURAN. Reruntuhan pesawat dan mobil Minggu (13/3) masih terlihat setelah disapu tsunami menyusul gempa bumi dekat bandara Sendai di Jepang bagian Utara.

MINAMISANRIKU –  Banjir lumpur dan puing-puing memenuhi wilayah sepanjang pantai timur laut Jepang setelah gempa dan tsunami menerjang pada Jumat siang lalu (11/3). Di kawasan itu, sejumlah kota dan desa berlokasi.
Tetapi, beberapa di antaranya tenggelam akibat terendam lumpur tsunami. Dua kota pantai, misalnya, rusak sangat parah akibat terendam lumpur. Yakni, Minamisanriku dan Kesennuma, Perfektur Miyagi. Dua kota tersebut menjadi simbol kehancuran akibat gempa dan tsunami. Sekitar 20 ribu warga dua kota itu dilaporkan hilang. Hanya beberapa bangunan di dua kota itu yang masih berdiri tegak. Sebagian besar lainnya sudah rata oleh tsunami.
Sebelum terjadi bencana, Minamisanriku dikenal sebagai kota pelabuhan ikan. Tetapi, hingga kemarin (13/3) sekitar 10 ribu di antara 17 ribu warganya belum diketahui keberadaannya. Kota tersebut justru terendam lautan Lumpur.
Nasib yang sama terjadi pada Kota Kesennuma, sekitar 42 km di utara Minamisanriku. Jumlah yang sama warga di kota tersebut dilaporkan telah hilang. Saat ini Kesennuma terkubur endapan lumpur dan puing-puing yang tersapu oleh tsunami setinggi 10 meter.
Dua kota pelabuhan tersebut terletak di kawasan pantai padat penduduk atau sekitar 210 km timur laut Tokyo. Gambar-gambar tentang Minamisanriku dan Kesennuma, yang diambil sebelum terjadi gempa dan tsunami, memperlihatkan suasana sibuk dan ramai di kawasan pelabuhan. Para nelayan membongkar hasil tangkapan setiap hari.
Di pantai yang berpasir, para orang tua bersantai saat akhir pekan. Anak-anak riang bermain air laut Samudera Pasifik. Di daratan (wilayah kota), gedung-gedung dan bangunan modern menjulang. Berbagai pusat perbelanjaan, pabrik, dan rumah memenuhi dua kota tersebut.
Kini, nyaris tidak ada yang tersisa dari dua kota itu. Ratusan bangunan terkubur lumpur tebal. Satu-satunya rumah sakit pemerintah di Minamisanriku terkepung tumpukan limbah dan puing-puing.
Tayangan televisi dari helikopter memperlihatkan gambar sekitar 200 warga yang selamat. Dengan ekspresi panik,  mereka berupaya menyelamatkan diri dengan menaiki atap gedung rumah sakit. Sedikitnya, tujuh pasien meninggal saat upaya penyelamatan. Yang selamat harus bertahan tanpa air dan makanan.
”Kami memiliki sekitar 20 pasien yang harus dilarikan ke rumah sakit lain,” ujar Mitsuya Sakuma, pejabat rumah sakit itu, kepada stasiun TV nasional Jepang, NHK, seperti dikutip The Sunday Telegraph, kemarin. ”Kami harap mereka segera dievakuasi,” lanjutnya.
Kabar buruk Minamisanriku pertama kali muncul Sabtu pagi lalu (12/3). Saat itu, dewan kota tersebut menyatakan bahwa sekitar 10 ribu warganya belum jelas nasibnya. Hanya 7.500 orang yang dikonfirmasi telah dievakuasi ke 25 shelter di sejumlah lokasi.
Di tempat bermain sebuah sekolah di kota tersebut, tertulis huruf ukuran besar SOS (Save Our Soul atau Selamatkan Nyawa Kami) yang dibuat dengan tali putih. Hutuf-huruf itu agaknya sengaja  dibuat untuk menarik perhatian helikopter penyelamat.
Judith Kawaguchi, reporter lokal stasiun televisi NHK, menceritakan kehancuran di Minamisanriku lewat Twitter. ”Sepuluh ribu orang hilang. Benar-benar mengerikan. Seluruh kota musnah. Jalan raya hancur. Hanya lumpur yang tersisa,” tulisnya.
Di Kesennuma, api berkobar di mana-mana. Saksi mata me­nu­turkan, api muncul di kota berpenduduk 74 ribu jiwa itu setelah tsunami menghantam se­buah tanker minyak di pelabuhan. Selanjutnya, kobaran api merambat ke daratan sepanjang sungai menuju pusat kota.
Kantor berita lokal melaporkan bahwa sepertiga kota tersebut telah tenggelam oleh lumpur. Kobaran api terus membesar hingga membakar puing-puing. Stasiun televisi pemerintah menyiarkan imbauan agar warga di wilayah sekitarnya segera dievakuasi karena kobaran api terus menjalar.
Di Kota Mito, kawasan sama, antrean terjadi di luar sebuah supermarket yang rusak. Ratusan orang menunggu pasokan obat-obatan, air bersih, dan aneka kebutuhan lain. Tetapi, rak-rak di supermarket itu kosong. ”Semua toko tutup. Ini satu-satunya yang masih buka. Saya sebetulnya ingin membeli popok, air minum, dan makanan. Tetapi, tidak ada yang tersisa,” tutur Kunio Iwatsuki (68).
Desa Rikuzentakata, Prefektur Iwate di wilayah utara Jepang, juga rata. Warga yang selamat terpaksa mengais-ais barang-barang mereka yang tersisa. Ada pula yang memanjat pohon dan memperbaiki mobil yang terbalik karena tsunami untuk tempat berteduh.
Tsunami juga menyapu sebagian besar Wataricho, kota berpenduduk 35 ribu jiwa di selatan Sendai dan berada di mulut Sungai Abukuma. Di Twitter seorang koresponden menulis bahwa dirinya terjebak di lantai atas rumahnya.
”Tsunami baru saja meng­hantam. Saat itu, saya hendak me­ngambil gambar dari lan­tai dua,” tulisnya. ”Banjir dan tsunami terus memenuhi rumah. Tolong, selamatkan saya,” lanjutnya. Dia tiga kali mengirim pesan dalam lima jam untuk meminta bantuan agar diselamatkan. Tetapi, nasibnya tetap tak jelas hingga kemarin.
Warga Kota Kamaishi, Prefektur Iwate, sedikit beruntung. Sirine terdengar sebelum tsunami datang sehingga mereka bisa menyelamatkan diri dan lolos dari horor.
Di Kota Sendai, Prefektur Miyagi, yang menjadi lokasi terdekat dari titik pusat gempa, banyak mobil dan kapal terseret tsunami. Kereta terguling dan jalan tergenang. Kota itu gelap gulita di malam hari karena jaringan listrik terputus. Sekitar 50 orang bertahan dan berlindung di lobi sebuah rumah sakit.
Badan Kepolisian Nasional (NPA) menyebutkan bahwa mereka menemukan dan mulai mengangkat lebih dari 200 mayat di Kota Higashimatsushima, Perfektur Miyagi, timur laut Jepang, kemarin. Koran Sankei Shimbun menambahkan, ratusan warga kota itu di Distrik Nobiru juga belum diketahui nasibnya.
Kemarin pagi, NPA mengumum­kan bahwa korban tewas akibat gempa dan tsunami mencapai 688 orang dan 642 lainnya hilang. Selain itu, 1.570 luka-luka. Angka tersebut belum jenazah yang ditemukan di Kota Sendai dan Higashimatsushima. Total korban jiwa telah mendekati 2 ribu jiwa. Di kawasan pantai Pulau Honshu, 12.250 rumah dan bangunan lain hancur atau rusak.
Di tengah kengerian tsunami, masih ada korban yang selamat. Seorang perempuan tua dan suaminya selamat di Kota Kesennuma, Prefektur Miyagi. ”Saya berupaya menyelamatkan diri bersama suami. Air laut yang muncul tiba-tiba memaksa kami naik ke lantai dua rumah orang lain,” tuturnya kepada NHK. ”Air laut ternyata masuk ke lantai dua. Si pemilik rumah dan putrinya terseret. Kami tak bisa berbuat apa-apa,” tambahnya.
Seorang pria lain terseret sejauh 15 km. Tetapi, dia berhasil selamat setelah berpegangan pada puing-puing di dekatnya.
Sebuah kapal perusak Pasukan Bela Diri Maritim Jepang menyelamatkan Hiromitsu Shinkawa, 60, kemarin setelah menemukan dia terapung di atas potongan atap rumah di perairan lepas pantai Prefektur Fukushima. Penyelamatan itu terjadi dua hari setelah tsunami menerjang pada Jumat lalu.
Pria yang berasal dari Kota Minamisoma, Miyagi, itu tersapu bersama rumahnya. Dia ditemukan dalam kondisi sadar dan sehat sekitar pukul 12.40 waktu setempat (pukul 10.40 WIB). Dia dilarikan ke rumah sakit dengan helicopter untuk mendapat perawatan.
”Saya lari setelah mendengar tsunami datang,” tutur Shinkawa kepada Jiji Press. ”Tetapi, kemu­dian saya balik ke rumah untuk mengambil sesuatu. Saya pun ter­seret. Saya selamat setelah ber­gantung pada atap rumah saya,” lanjutnya. (AFP/Rtr/AP/dwi)