Tanggul Cisanggarung Semakin Kritis

oleh -14 views
foto: itta fathimatul lailiyyah/radar cirebon LONGSOR. Kondisi tanggul sungai Cisanggarung semakin kritis, padahal letaknya hanya beberapa meter dari Kantor Unit Satuan Kerja BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Desa Jatiseeng, Ciledug.

foto: itta fathimatul lailiyyah/radar cirebon LONGSOR. Kondisi tanggul sungai Cisanggarung semakin kritis, padahal letaknya hanya beberapa meter dari Kantor Unit Satuan Kerja BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Desa Jatiseeng, Ciledug.
Aktivis Tuding BBWS Tak Tanggap
CILEDUG – Sejak hujan lebat yang mengakibatkan banjir di empat kecamatan di wilayah timur Cirebon (WTC) beberapa waktu lalu, senderan sungai makin hari makin terkikis tergerus air. Tanggul pun semakin kritis yang membuat warga tak tenang. Pemandangan tersebut tergambar di pinggiran Sungai Cisanggarung tepatnya di Blok Kliwon Desa Jatiseeng Kidul, Kecamatan Ciledug.
Rumah warga saat ini terancam ikut tergerus oleh tanah sungai yang makin amblas. Dulu, jarak rumah warga ke sungai sekitar 7 meter namun sekarang hanya berjarak beberapa meter saja. Padahal kondisi tanggul sudah sangat kritis, tetapi belum ada tindakan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung yang letak kantor unit kerjanya tak jauh dari Sungai Cisanggarung.
Menurut salah seorang warga, Raniah yang rumahnya tak jauh dari pinggiran sungai, hujan lebat yang sering mengakibatkan banjir masuk ke dalam rumahnya sudah sering terjadi, terakhir banjir besar minggu lalu. Tetapi sampai sekarang belum ada tindakan untuk memperbaiki senderan sungai, hanya ada pembagian uang Rp100.000/orang saat datang banjir. Itupun tidak seluruhnya hanya blok tertentu saja.
“Saya sempat tanya, kok di blok saya engga dapat bagian uang padahal sama-sama korban banjir hampir satu meter, bahkan pohon bambu milik saya yang berada persis di tepi sungai sudah ikut amblas dengan tanah,” tuturnya kepada Radar.
Kapan terakhir kali sungai disender? “Saya lupa soalnya sudah lama banget,” ucapnya.
Sementara itu, aktivis KPCT, Haidar mengatakan, air banjir yang merendam rumah warga lebih banyak diakibatkan kiriman air luapan sungai dari hulu Sungai Cisanggarung di Kuningan. Seharusnya Kuningan juga ikut bertanggung jawab dengan banjir yang terjadi di wilayah Cirebon khususnya beberapa hari ini yang sudah merendam 12 desa di WTC.
“Selama ini Kuningan memproklamirkan diri sebagai kota konservasi, tetapi nyatanya kerusakan lahan sudah terjadi dari hulu sungai, sehingga berimbas pada aliran sungai di bawahnya. Keadaan diperparah dengan sikap BBWS yang cenderung tak tanggap, padahal sungai Cisanggarung berada persis di belakang satuan kerja BBWS Cimanuk-Cisanggarung. Tak sempatkah mereka menengok ke belakang, apa yang terjadi dengan warga di sekitar sungai yang dalam kondisi kritis,” paparnya. (tta)