Amerika Siaga di Seluruh Dunia

oleh -4 views

FOTO: AFP CEMAS. Presiden AS Barack Obama (kiri) berbicara dengan Kepala Staf Gabungan Angkatan Darat Laksamana Mike Mullen, Jumat (30/9). Negeri adidaya itu mewaspadai ancaman balas dendam jaringan Al Qaeda atas tewasnya ulama radikal kelahiran AS dan berdarah Yaman, Anwar al-Awlaki.
Waspadai Adanya Pembalasan setelah Tewasnya Dua Tokoh Al Qaeda
WASHINGTON- Sehari setelah tewasnya tokoh Al Qaeda Anwar al-Awlaki di Yaman, pemerintahan Presiden AS Barack Obama waswas. Negeri adidaya itu mewaspadai ancaman balas dendam jaringan Al Qaeda atas tewasnya ulama radikal kelahiran AS dan berdarah Yaman tersebut.
Sabtu waktu setempat (1/10) atau kemarin WIB (2/10), Washington menerbitkan travel alert atau travel warning (peringatan perjalanan). Dalam pesan yang disebarluaskan ke seluruh penjuru dunia itu, AS meminta seluruh warganya melipatgandakan kewaspadaan. Sebab, setelah kematian Awlaki, AS yakin bahwa warga Amerika yang berada di dalam maupun luar negeri bakal menjadi sasaran empuk Al Qaeda di seluruh dunia. Washington juga mengatakan bahwa sentimen anti-AS akan meningkat di seluruh dunia. Karena itulah, kantor diplomatik AS di seluruh jagat juga diminta siaga.
Travel alert yang dirilis oleh Departemen Luar Negeri (Deplu) AS itu secara khusus menyebut Al Qaeda Jazirah Arab alias AQAP sebagai penyerang potensial. Tetapi, karena Al Qaeda memiliki jaringan yang luas, tak tertutup kemungkinan kelompok dari wilayah lain juga melancarkan serangan. Apalagi, awal Mei lalu, AS juga menewaskan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden di Pakistan.
“Tewasnya Awlaki berpotensi memicu serangan anti-Amerika di seluruh dunia oleh individu atau kelompok tertentu. Sasarannya bisa saja warga atau fasilitas-fasilitas penting milik AS,” tutur Deplu AS dalam travel alert yang dimuat dalam situs resminya kemarin. Dalam dokumen itu juga disebutkan bahwa AQAP sudah melontarkan ancaman untuk balas dendam.
Apalagi, serangan pesawat tanpa awak AS di Yaman itu tidak hanya menewaskan Awlaki. Serangan udara yang dilancarkan pesawat milik CIA tersebut juga menewaskan seorang tokoh atau petinggi AQAP lainnya, yakni Samir Khan. Pria warga negara AS itu merupakan editor majalah khusus milik AQAP, Inspire, yang selama ini berfungsi sebagai penyebar propaganda. Lewat majalah berbahasa Inggris itu pula, Khan dan Awlaki bekerja sama merekrut anggota baru Al Qaeda dan simpatisan dari Jazirah Arab.
Jumat pagi lalu (30/9), Kementerian Pertahanan Yaman memastikan berita soal tewasnya Awlaki. Tokoh 40 tahun tersebut tewas akibat serangan pesawat tanpa awak AS di Provinsi Magrib, bagian tengah Yaman. Selama ini provinsi paling rawan di Yaman itu memang diyakini sebagai sarang AQAP. Selain menewaskan Awlaki dan Khan, serangan menjelang fajar itu juga melukai sedikitnya tujuh orang.
Begitu berita tentang tewasnya Awlaki dan Sami Khan menyebar, Kepolisian Kota New York (NYPD) langsung meningkatkan pengamanan di kota berjuluk Big Apple itu. “Kami tahu bahwa Awlaki punya banyak pengikut di AS, termasuk di kota ini. Karena itu, kami harus siaga dan selalu waspada dalam menghadapi kemungkinan serangan balas dendam dari pengikut atau simpatisan Awlaki,” ujar Komisioner Ray Kelly dari NYPD.
Kebijakan yang sama dengan NYPD juga diterapkan FBI (Biro Penyelidik Federal). Sejak akhir pekan lalu, FBI menginstruksikan seluruh agennya di dalam atau di luar AS supaya lebih waspada. “Kami juga mengirimkan pesan kepada seluruh aparat penegak hukum di negeri ini untuk meningkatkan kewaspadaan,” ujar Jubir FBI Kathy Wright pada Jumat lalu.
Pada April 2010 lalu, pe­merintahan Obama mengizinkan operasi militer yang khusus menarget Awlaki. Itu terjadi setelah intelijen AS meyakini bahwa Awlaki terlibat secara langsung dalam serangan teror ke Negeri Paman Sam. Selanjutnya, intelijen AS bekerja sama secara intensif dengan pemerintah Yaman untuk melacak keberadaan Awlaki. Jumat lalu, Obama mengapresiasi kinerja intelijen setelah menerima kabar tewasnya ulama radikal tersebut. (AFP/AP/RTR/hep/dwi)