Beni Tidak Simpan Bom

oleh -1 views

SOLOK – Tiga hari pasca penangkapan terduga teroris Cirebon, Beni Asri, tim dari Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan Indonesia Auto Fingerprint Identification System (INAFIS) turun ke Jorong Kasiak, Nagari Koto Sani, Kecamatan X Koto Singkarak, Kabupaten Solok, Senin (3/10). Operasi difokuskan untuk penggeledahan kediaman Beni. Di rumah itu diduga ada tersimpan bom, ba­han-bahan peledak, serta materi-materi mencurigakan.
Penggeledahan berlang­sung menegangkan, mema­kan waktu lebih empat jam, melibatkan belasan tim dari Gengana Brimob Polda Sumbar, ratusan personel Mapolresta Solok. Lokasi target disterilkan dengan pemasangan police line, masyarakat setempat tidak diperbolehkan mendekat.
Seluruh pihak keluarga Beni pun dimintai keterangannya, guna menelusuri lebih jauh tentang sosok Beni sesungguhnya yang telah ditetapkan sebagai tersangka.
Putra tersangka, Muhammad Gaza Alfarizi yang baru berusia dua bulan dititipkan bersama seorang Polwan Mapolresta Solok. Istri tersangka Upik Nurul (22) harus mengikuti proses pemeriksaan petugas. Anehnya, selama pengeledahan ternyata tidak begitu mendapat perhatian dari warga setempat, seakan penduduk acuh dan tetap beraktivitas seperti biasanya. Kemungkinan masyarakat me­ngambil sikap demikian karena takut ikut terlibat, lokasi kejadian hanya dipenuhi petugas.
Dari pantauan Padang Ekspres (Grup Radar Cirebon) di lokasi perkara, operasi diawali penyisiran pekarangan rumah Beni oleh Tim Genaga Polda Sumbar dengan peralatan dan senjata lengkap, kemudian dilanjutkan penggeledahan seisi rumah tersangka.
Proses penggeledahan berlang­sung di bawah pengawalan ekstra ketat, hanya petugas tertentu saja yang diperbolehkan masuk. Tidak hanya terhadap ruang tengah, namun seluruh kamar dalam rumah permanen berukuran 4×6 itu tak luput jadi target petugas, tempat-tempat penyimpanan seperti almari, bofet, box yang dicurigai pun dibongkar. Pihak keluarga Beni dibuat pasrah menerima keadaan.
Meski tak berhasil menemukan bom maupun bahan peledak aktif, berselang satu jam kemudian petugas khusus INAFIS Unit Olah TKP menemukan sejumlah berkas-berkas mencurigakan, di antaranya buku-buku religius berpaham radikal, foto-foto, koran berisi berita kasus bom, lima ponsel berbagai merek, daftar nama orang tak dikenal, kartu pengenal, serta material-material mencurigakan lainnya. Berkas-berkas yang dikumpulkan petugas ini didapati di berbagai tempat, dan seluruhnya direnca­nakan akan dibawa ke Mabes Polri sebagai barang bukti.
Kapolresta Solok, AKBP Lut­fi Marta­dian menyebutkan pihak­nya hanya selaku penyidik pen­damping, karena proses penye­lidikan langsung dari Mabes Polri dengan jumlah anggota diraha­siakan, dibantu Tim Brimob Polda Sumbar. Sehingga pihaknya enggan berkomentar terlalu jauh, ekspos hasil penggeledahan ke publik menjadi kewenangan Mabes Polri. Namun sesuai meka­nisme, seluruh hasil temuan diren­canakan dibawa langsung ke Polda Sumbar, selanjutnya ke Jakarta.
“Kebetulan saya mendampingi lantaran perkara ini terjadi di wila­yah hukum Polresta Solok, na­mun kewenangan untuk publikasi menjadi kewenangan Mabes Polri. Mari sama-sama kita tunggu saja hasilnya. Namun sejauh ini dikabarkan Beni telah ditetapkan sebagai tersangka, “ tegas Lutfi.
Setelah di rumah Beni, peng­ge­ledahan dilanjutkan ke kediaman kakak ibu ter­sangka, Helmi yang letaknya bersebelahan. Di rumah tersebut petugas juga membawa sejumlah barang yang dianggap mencurigakan. Hal ini dilakukan karena diduga antara kedua keluarga cukup dekat, dan salah seorang anak Helmi laki-laki selama ini sama-sama berada di perantauan di Cirebon dengan Beni. Barang-barang yang didapati petugas semuanya juga ikut dibawa.
Wali Nagari Proaktif Kawal Petugas
Jalannya proses pengeledahan juga serta-merta mendapat perhatian khusus dari Wali Nagari Koto Sani, Deswandi dan Wali Jorong Kasiak Buyun Gindo Sutan, seolah mereka enggan melewatkan sedetik pun waktu dalam proses penggeledahan di kediaman warganya itu. Meski tak bisa berbuat banyak, dari raut wajah Deswandi tergambar jelas rasa prihatin yang menyelimutinya, apalagi keluarga Beni saat itu memang terkesan sedikit tertekan.
Ditandai pasca berlangsungnya proses penggeledahan, Deswandi terus berupaya meminimalisir beban mental keluarga yang sedang mendapat perhatian khusus dari petugas itu. “Saya kasihan melihat keluarga ini, mereka pasti merasa tertekan. Namun apa hendak dikata, saya selaku pimpinan nagari juga tak bakalan bisa berbuat apa-apa, proses hukum ini harus dihormati,” ujar Deswandi.
Sempat digambarkan Deswandi, negeri yang diimpinnya itu berpenduduk 9.372 jiwa, bermata pencaharian mayoritas  petani dan penggarap tambak ikan. Sekitar 30 persen warga hidup di perantauan menggeluti profesi sebagai pedagang dan pengusaha. Beni yang kini tengah menjadi perhatian bagi masyarakat lantaran terlibat kasus teroris, semenjak remaja tinggal di Cirebon dan baru tiga bulan lalu pulang kampung.
Deswandi mengaku tak begitu tahu dengan karakter Beni, sebab setiap pagi telah berangkat untuk berjualan sayuran ke pasar-pasar sehingga jarang bertemu. Namun sepengetahuannya Beni termasuk anak pendiam, kurang bergaul dan rajin beribadah. (mg9)