Slamet Dinilai Untuk Nelayan Telada Nasional

oleh -14 views

LEMAHWUNGKUK – Salah satu nelayan asal Kota Cirebon, Slamet Al Furi berkesempatan  mendapatkan penghargaan Adibakti Mina Bahari 2011 tingkat nasional bidang perikanan tangkap kategori nelayan teladan. Bahkan bertempat di TPI Cangkol Tengah, tim dari Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) melakukan penilaian dan peninjauan lapangan, Selasa (4/10).
Menurut Ketua Tim Penilai KKP, Ir Hedro Wiyono SE MM, penghargaan Adibakti Mina Bahari ini merupakan sebagai wujud pernghargaan dari pemerintah kepada seluruh masyarakat yang berkecimpung di bidang perikanan.
“Untuk tahun ini ada lima kategori yang akan diberikan yakni nelayan teladan, tokoh penggerak pembangunan perikanan tangkap teladan, perusahaan perikanan teladan, kelompok usaha bersama (KUB) nelayan teladan, dan tempat pendaratan ikan (TPI) Teladan,” kata dia kepada Radar, kemarin (4/10).
Dia juga mengatakan,  penilaian dan pemberian penghargaan Abdi Bakti ini untuk menumbuhkembang dan memberikan motivasi  kepada masyarakat untuk pembangunan di bidang perikanan. Untuk di Kota Cirebon yang diusulkan  meraih penghargaan Adibakti Mina Bahari bidang nelayan teladan, tim penilai akan menilai bagaimana penggunaan rumpon sebagai tekonologi atau alat bantu untuk menangkap ikan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah yang telah melakukan pembinaan terhadap para nelayan sehingga bisa menjadi salah nominasi untuk mendapatkan penghargaan Adibakti Mina Bahari 2011,” ujarnya.
Sementara, Slamet Al Furi (42) yang dinilai untuk ketegori nelayan teladan menyatakan  sebagai nelayan awalnya dirinya menggunakan alat tangkap jaring arad dan garok yang tidak ramah lingkungan. Namun sejak tahun 2001, dia meminta bantuan kepada Pemkot Cirebon berupa dua buah alat GPS dan rumpon sebagai sarana untuk menangkap ikan.
“Hingga sekarang dari 2 alat GPS yang diberikan pemerintah, saat ini sudah bertambah menjadi 16 buah,” tegas dia.
Sejak tahun 2001 lalu itulah, dirinya dan sejumlah nelayan yang ada di Cangkol Tengah melaksanakan program rumponisasi dengan membuat rumah ikan (fish apartement). Dengan menggunakan rumpon, selain bisa menjaga ekosistem laut juga bisa meningkatkan pendapatan nelayan.
“Bahkan dengan membudidayakan rompon juga bisa dijadikan ekowsata karena banyak pemancing dari luar Kota Cirebon yang mancing di sekitar rumpon,” tuturnya.
Sedangkan, Sekrataris Daerah (Sekda), Drs H Hasanudin Manap MM mengungkapkan bahwa laut di pesisir Kota Cirebon terbilang cukup tinggi pendangkalannya. Sehingga dibutuhkan alat untuk mengeruk terutama di muara sungai agar kapal-kapal nelayan bisa keluar masuk dengan mudah. “Kita pernah mengalokasikan anggaran Rp600 juta unguk pengerukan sungai Sukalila tetapi hasilnya belum maksimal,” tandas dia.
Hingga saat ini Pemkot Cirebon belum memiliki kapal pengeruk sungai dan pantai bandingkan dengan Kabupaten Indramayu yang telah memiliki 4 buah kapal pengeruk. Sebab, untuk satu unit kapal pengeruk yang bagus dibutuhkan anggaran hingga Rp3,5 miliar. “Mudah-mudahan tahun depan Pemkot Cirebon bisa mengadakan kapal pengeruk untuk mengeruk muara sungai dan pantai,” tukasnya. (mam)