KKP Sebar 5 Ribu Kapal Secara Gratis

oleh -3 views

JAKARTA– Dalam mendu­kung kesejahteraan para nelayan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan memberikan 5 ribu kapal secara gratis. Tak hanya sebatas untuk kapal perikanan tangkap, KKP juga menyiapkan untuk kapal angkut dan pengolah. Nantinya akan dilakukan pemetaan penyebaran kapal tersebut.
Berdasarkan informasi yang didapatkan dari tim Institut Pertanian Bogor (IPB) independen melansir terkait hasil perikanan tangkap yang naik secara drastis. “Untuk kapal kecil naik 240 persen di Pantai Selatan. Sedangkan Pantai Utara, naik hamper 100 persen,” ungkap Sekjen KKPK, Sjarief Widjaja, di Jakarta, kemarin (4/9).
Ukuran kapal Pantai Selatan hanya berkisar di bawah 10 GT, sedangkan Pantai Utara hanya berkisar 10-30 GT. “Ini sangat berdampak baik atas efek dari IUU Fishing kita, nelayan tidak perlu jauh- jauh untuk mencari ikan. Tidak sampai 12 mil,” ungkapnya.
Sehingga, KKP pun melakukan pemetaan terkait sebaran kapal itu dengan berbagai ukuran. Untuk kapal di bawah 10 GT akan disebar ke nelayan yang berada di Pantai Selatan dan Barat. Sedangkan, kapal dengan ukuran 10-30 GT berada di pantai utara. Yakni, laut Jawa. “Ukurannya lebih besar karena nelayan banyak yang menyebrang hingga Natuna,” paparnya.
Berbeda dengan kapal berukuran di atas 30 GT akan berada di Laut Arafuru dan Pantai Utara. ”Namun jumlahnya sangat terbatas. Begitu juga untuk ukuran 200,” jelasnya. Ukuran tersebut digunakan untuk kapal angkut dan kapal pengolah hasil perikanan.
Menurutnya, KKP akan melakukan langkah yang lebih efektif. Yakni, akan membuat kapal proseccing terapung di jalan dibandingkan membangun cold storage secara satu persatu. “Sehingga bisa bergerak kemana saja. Hal ini juga disebabkan Indonesia merupakan pulau-pulau kecilnya sangat banyak,” ungkapnya.
Sistem ini layaknya penggilingan padi yang bergerak. Yakni, kapal tersebut menerima jasa seperti pengolahan dari gabah menjadi beras. “Ikan hasil tangkapan ke pengolahan menjadi fillet,” katanya. Penyebaran ini pun berada di titik-titik gugus pulau terdepan.
Yakni, Sabang (Aceh), Ranai (Natuna, Kepulauan Riau), Tahuna (Sangihe, Sulawesi Utara), Saumlaki (Maluku Tenggara Barat), dan Nunukan (Kalimantan Utara). “Konsepnya seperti perintis, harapannya nanti swasta juga bisa masuk,” pungkasnya. Jumlah kapal pengolah yang beeukuran 60 GT ini jumlahnya hanya sekitar 10-an. (lus)