Rela Antre Meski Hanya untuk MCK

oleh -4 views
ANTRE: Sumur di tengah sawah Desa Kedungsari yang masih tersisa airnya, dimanfaatkan warga untuk keperluan MCK. AZIS MUHTAROM/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Kekeringan parah terus melanda wilayah Majalengka bagia utara. Warga Desa Kedungsari Kecamatan Ligung bahkan rela “berebut” air sumur yang masih tersisa di sawah, untuk diangkut ke rumah mereka guna memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sumur yang terletak di area pesawahan Desa Kedungsari tersebut sudah dua bulan terakhir dipadati warga setiap pagi dan sore hari. Mereka bergiliran menimba air untuk diangkut ke rumah mereka menggunakan ember dan jeriken.

Haki, salah satu warga mengaku jika aktivitas itu terpaksa mereka lakukan untuk memenuhi keperluan air bersih rumah tangga mereka. Mengingat sumur-sumur milik warga sudah tidak lagi mengeluarkan air. Beberapa warga bahkan ada yang sudah menambah kedalaman sumur di rumah mereka tapi hasilnya nihil.

Untuk tetap bisa mememenuhi kebutuhan air bersih, warga terpaksa mengangkut air setiap pagi dan sore untuk ditampung di bak dan ember-ember besar yang sengaja disediakan di kamar mandi mereka yang hanya cukup dipakai untuk satu hari aktivitas MCK.

Namun kegiatan itu tidak menjadi solusi bagi kebutuhan dapur warga. Sebab air yang ditimba dari sumur sawah tersebut kondisinya tidak layak untuk dikonsumsi. Sehingga untuk memenuhi keperluan masak dan minum, warga membeli air galon isi ulang.

Untuk dipakai kebutuhan MCK pun, air yang diangkut dari sumur di sawah tersebut juga mesti direkayasa terlebih dahulu sebelum digunakan. Misalnya, warga yang mampu biasa menuangkan sedikit cairan antiseptik ke dalam bak kamar mandi mereka. Tapi bagi warga biasa, memilih untuk diendapkan dulu atau dicampur pakai tawas sebelum digunakan.

“Kalau (air) dari sumur sih kondisinya agak butek dan bau tanahnya terasa sekali. Jadi tidak bisa untuk diminum atau dimasak karena khawatir kebersihannya, dan kita terbiasa pakai air galon isi ulang. Memang masih bisa dipakai buat mandi, tapi itu juga harus diendapkan dulu beberapa jam supaya kotoran yang tersisa mengendap di bawah,” tuturnya.

Jika nekat langsung digunakan untuk keperluan MCK tanpa proses rekayasa terlebih dahulu, warga terserang gatal-gatal. Sejak itu warga merekayasa air sumur yang masih tersisa tersebut, agar bisa digunakan untuk keperluan MCK.

Warga lainnya, Nining berharap mendapatkan bantuan air bersih dari pmerintah untuk keperluan dapur. Sebab untuk keperluan dapur saat ini, ibu rumah tangga sepertinya terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air galon isi ulang dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya.

“Dari dulu kalau buat minum di rumah saya memang pakai air galon isi ulang. Tapi sekarang nambah jadi harus sedia buat masak. Makanya pengeluaran dapur membengkak. Kalau bisa di sini dibuatkan toren untuk penampungan umum air bersih, terus air bersihnya didrop dari pemerintah biar bisa mengurangi kebutuhan dapur kita,” harapnya. (azs)