Tiap Hari Di-Bully, Agung Gantung Diri

oleh -2 views
IDENTIFIKASI: Polres Cirebon Kota melakukan olah TKP di rumah Agung, Minggu (4/10).

Pernah Mengeluh ke Orang Tua dan Minta Pindah Sekolah

 

CIREBON– Cerita ini bikin prihatin. Cerita ini menjadi perhatian bagi para orang tua dan juga pihak sekolah. Cara bergaul, cara memperlakukan teman, terutama di sekolah, jangan sampai kelewat batas. Muhammad Agung (17), siswa MTs swasta di Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon, mengakhiri hidupnya dengan gantung diri karena sering di-bully (jadi bahan olok olokan) teman- temannya di sekolah.

Tasiah (60) begitu terpukul melihat anak bungsunya memilih langkah nekat tersebut. Sambil memegangi kepala Agung yang sudah ditutup kain, tak henti-hentinya Tasiah menangis. Tasiah mengatakan, sehari sebelumnya atau Sabtu (3/10) Agung meminta kepadanya agar bisa pindah sekolah.

Diceritakan, saat itu Agung mengeluh kalau teman-teman di sekolahnya memperlakukannya dengan tidak baik. Dia kerap dihina dan tidak jarang mengalami kekerasan fisik ketika memasuki kelas. “Tadinya minta pindah, cuma pikir saya kan nanggung. Kan sudah kelas tiga, jadi saya suruh sabar saja,” ujarnya saat dijumpai Radar Cirebon, kemarin.

Dilanjutkan Tasiah, Agung adalah anak yang baik dan tidak seperti kebanyakan anak seusianya. Dia tergolong pendiam dan tidak banyak bicara serta rajin membantu orang tua. Dikatakan, sekolah tempat anaknya menimba ilmu sepertinya kurang mengawasi pergaulan siswa sehingga peristiwa ini terjadi.

“Saya kerja jualan kangkung, cuma beberapa bulan terakhir tidak bisa jualan karena lagi sakit. Saya gak tahu apa Agung pernah cerita atau tidak sama guru. Saya kira kejadiannya gak bakal begini,” kata warga Desa Dukuh, Kecamatan Kapetakan, itu.

Sama seperti yang diutarakan Tasiah, teman sekelas korban di sekolah, Difka Pramudi, mengaku hampir setiap hari korban diolok-olok dan dihina oleh oknum siswa di sekolah tersebut. Menurutnya, ia pernah melihat beberapa kali korban dijahili, bahkan mengalami kekerasan fisik. “Gak ada yang berani melerai, setiap hari pasti dijahili,” tuturnya.

Jasad Agung ditemukan oleh Tasiah sendiri kemarin sekitar pukul 15.00. Tasiah meninggalkan rumah sekitar pukul 14.00 untuk melayat ke tetangga yang meninggal dunia. Ketika kembali sekitar pukul 15.00, saat membuka pintu rumah bagian depan, dia melihat anak bungsu dari sebelas bersaudara itu sudah dalam keadaan tergantung dan tidak bergerak.

Tasiah pun langsung menangis dan berteriak meminta tolong. Warga sekitar yang mendengar teriakan itu langsung berdatangan dan memberikan pertolongan. Tapi setelah diperiksa, Agung sudah meninggal. Warga pun menghubungi pihak pemerintah desa dan pihak kepolisian.

Juragan Desa Dukuh, Abul Hasan, mengatakan olah TKP sudah dilakukan pihak kepolisian. Keluarga selanjutnya meminta dibuatkan surat pernyataan menerima kejadian tersebut dan meminta untuk tak dilakukan visum. “Sudah kita buatkan suratnya, nanti ditembuskan ke polsek dan rencana besok (hari ini, red) dikubur,” ujarnya. (dri)