Puluhan Domba Kepung Gedung Dewan

oleh -1 views

SELAIN mahasiswa dari perguruan tinggi Muhammadiyah se-Zona 3, aksi juga dilancarkan oleh para pedagang domba. Hanya saja, mereka tidak berorasi. Aksi yang mereka lakukan dengan cara membawa puluhan ekor domba ke gedung DPRD, kemarin (26/11).

Puluhan pedagang domba yang biasa berjualan di lahan sewaan wilayah Kelurahan Awirarangan itu menuntut agar pemerintah memfasilitasi usaha mereka. Pasar hewan sangat mereka butuhkan dengan pemikiran mesti disediakan pemerintah.

“Lahan yang kami sewa untuk pasar hewan di Awirarangan, sebentar lagi mau habis. Sedang untuk sewanya, kami tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah,” ujar salah seorang perwakilan pedadang domba, Saipudin.

Untuk keberlangsungan usaha ratusan pedagang domba, diakuinya, sudah puluhan tahun tanpa ada campur tangan pemda. Mereka berdiri di atas kaki sendiri. Padahal keberadaan pasar hewan sangat dibutuhkan.

“Sebetulnya ada satu lahan seluas satu hektare di jalan baru Awirarangan. Pernah ada pertemuan antara pihak kelurahan dengan SKPD terkait. Namun ternyata tidak ada tindaklanjut,” ungkapnya.

Untuk sewa lahan pun, beberapa tahun sebelumnya ada bantuan dari pemda. Namun khusus 2015, rupanya para pedagang domba dituntut untuk membayar sendiri. Pihaknya bersyukur, pada saat audiensi muncul kesepahaman. Ketua DPRD Rana Suparman SSos menjanjikan pendirian pasar hewan.

“Untuk sewa lahan pun, pada APBD 2016 dijanjikan oleh beliau bakal dialokasikan. Pak Rana menjanjikan pada 2016 akan mengupayakan pasar hewan. Karena memang sangat logis, lahannya sudah ada kok. Tinggal mau atau tidak,” kata Saipudin.

Audiensi pedagang doma dilaksanakan di ruang Banmus. Kehadiran mereka diterima oleh Ketua DPRD Rana Suparman SSos dan wakilnya Drs Toto Suharto SFarm Apt. Hadir juga Ketua Komisi II, H Dede Ismail SIP.

Rana mengakui, dulu pasar hewan Kuningan ramai. Daya sedotnya tinggi hingga pembeli dari luar daerah tertarik untuk membeli produk ternak dari Kuningan. Dikatakannya, saat ini Kuningan tidak sehebat dulu karena tidak punya pasar hewan. Seandainya sudah dimiliki, maka daya magnet masyarakat untuk beternak domba, sapi atau lainnya akan tinggi.

“Tadi saya sudah komunikasikan ke pak sekda (H Yosep Setiawan). Untuk bantuan sewa, pasti akan dibantu. Tapi tetap harus ada keputusan untuk pendirian pasar hewan yang permanen, tidak nyewa lagi,” kata dia.

Untuk tempat, pihaknya ingin agar diperhatikan aspirasi pada pedagang. Sebab lokasi pasar hewan harus strategis, jangan sampai salah tempat yang akhirnya malah menjadi sepi pembeli.

Usulan rumdin sekda yang selama ini dianggurkan agar bisa dijadikan pasar hewan, dia tepis. Begitu pula taman yang berada di Bundaran Cijoho. Dia menegaskan, lokasi pasar hewan harus betul-betul representatif dan membutuhkan lahan yang luas. Lokasi pasar pun harus berorientasi pada menarik pembeli untuk bertransaksi di tempat itu.

“Paling tidak bisa menyedot pembeli dari wilayah III Cirebon lah. Jadi tempatnya harus strategis, karena merupakan tempat transaksi jual beli produk masyarakat. Selain itu harus luas berada pada kisaran 250 bata (1 bata=14 meter persegi). Jadi begini, ada program yang bersifat prestise dan ada pula program yang merepresentasikan kebutuhan daerah. Bung Karno juga dulu setelah merdeka memprogramkan pembangunan monas yang bersifat prestise,” sebutnya. (ded)