Pasutri dan 4 Anaknya Meninggal karena TBC

oleh -14 views

SUKABUMI – Sedikitnya 40 warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, diduga tertular tuberkolosis (TBC), selama kurun 2015-Maret 2016. Bahkan, 15 orang di antara mereka meninggal dunia. Enam orang di antaranya tercatat satu keluarga.

“Saat ini kita terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan dan pencegahan penularan TBC di desa kami,” kata Kepala Desa Tanjungsari Dilah Abdillah kepada wartawan, kemarin (14/4).

Satu keluarga pengidap TBC yang meninggal dunia itu adalah pasangan suami-istri Ujat (52) dan Epon (47) serta empat orang anak mereka. Keluarga Ujat tinggal di Kampung Cileungsir, Kedusunan Bantarsari. Selain keluarga Ujat, puluhan warga dari berbagai kampung dan kedusunan juga terkena TBC.

Wilayah penyebaran TBC meliputi hampir semua kadusunan dan kampung yang ada di Desa Tanjungsari antara lain Kadusunan Cileuwi Dinding, Cijambe, Bantarsari, Tanjungsari, Rawaseel, Cidahu, Ciguha, dan Cibangkong.

“Di satu Kampung Cileungsir saja terdapat 15 orang penderita TBC yang meninggal. Penderita lainnya menyebar di beberapa kampung. Upaya mempercepat penyembuhan, kami telah membentuk tim pendamping minum obat atau PMO di lingkungan keluarga yang mengidap TBC. PMO berasal dari anggota keluarga yang sehat atau tetangga yang tidak mengidap TBC,” ungkapnya.

Berdasarkan informasi dan keterangan dari petugas Dinkes dan puskesmas, TBC yang merebak di Desa Tanjungsari disebabkan faktor genetik dan penularan. Adapun pemicunya adalah lingkungan yang tidak sehat dan kondisi rumah yang tidak memenuhi syarat sebagai tempat tinggal yang sehat.

“Masih ada rumah yang tidak dilengkapi dengan ventilasi sehingga udara di dalam kamar menjadi lembap. Kita tahu udara yang lembap merupakan pemicu TBC,” ungkap Diah.

Mestinya sosialisasi tentang TBC serta cara pencegahan dan penanggulangannya oleh Dinkes dan puskesmas terus dilakukan secara meluas. Namun selama ini, langkah pencegahan dan penanggulangan dilakukan ketika terjadinya kejadian luar biasa (KLB). “Dengan cara begitu, maka secara bertahap kasus TBC yang bisa mematikan bisa diminimalisasi sedini atau sekecil mungkin,” katanya.

Camat Jampangtengah Anas Anzasmara mengaku prihatin dengan terus meningkatnya kasus TBC di desa tersebut. “Selama beberapa tahun ini jumlah kasus TBC di Desa Tanjungsari relatif meningkatkat dibanding kasus penyakit berbasis lingkungan lainnya, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang diakibatkan polusi udara yang tercemar dari sejumlah pabrik kapur, demam berdarah dengue (DBD), dan kasus penyakit lain-lainya,” ucapnya.

Meningkatnya kasus penyebaran TBC atau penyakit lain di Desa Tanjungsari harus menjadi pekerjaan semua pihak. Termasuk kalangan keluarga harus memiliki kepedulian untuk bagaimana usaha penanggulangan dan penyembuhan penyakit tersebut.

“Salah satu caranya pihak keluarga agar selalu rutin memantau kerutinan dalam mengkonsumsi obat guna mempercepat penyembuhan kasus penyakit TBC,” tandasnya.

Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, Saepul Ramdan menjelaskan, upaya mencegah serta menekan angka peningkatan kasus TBC di Desa Tanjungsari dengan cara menurunkan petugas dan melakukan sosialisasi dalam kerangka melakukan penanggulangan TBC dan  kasus penyakit berbasis lingkungan lainnya.

“Dengan harapan semua kasus berbasis lingkungan lainnya, tidak hanya seputar kasus penyakit TBC saja yang menjadi bagian konsentrasi kami untuk pecegahan di lapangan,” pungkasnya. (udi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *