Komunitas Hidroponik, Bertanam Sayuran di Lahan Sempit

oleh -163 views
SIAP PANEN: Teknik menanam hidroponik makin digemari masyarakat Majalengka. FOTO: ALMUARAS/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Penggemar hidroponik di Kabupaten Majalengka semakin banyak. Bahkan kini telah terbentuk komunitas hidroponik Kabupaten Majalengka.

Ketua Komunitas Hidropnik Kabupaten Majalengka, Heryanto SP menyebutkan, ada 30 orang melakukan pertemuan pertama dan membentuk komunitas hidroponik di Desa gunung Manik Kecamatan Talaga, beberapa waktu lalu.

Syarat menjadi anggota komunitas tidak sekadar menyukai pola hidroponik, tapi harus menerapkannya dalam budidaya tanaman.  Penyuluh pertanian Kecamatan Cingambul ini menjelaskan, hidroponik masuk ke Indonesia sekitar tahun 1990-an dibawa oleh Bob Sadino (alm).

Menurut Heryanto, menanam dengan sistem hidroponik sangat tepat untuk menyiasati lahan pertanian yang semakin sempit.

Selain itu bisa memenuhi kebutuhan sayuran dan buah-buahan yang dibutuhkan setiap hari. Menanam dengan sistem hidroponik juga cukup mudah serta bisa dilakukan anak-anak  dan ibu-ibu.

“Kalau menanam sayuran di sawah para petani biasanya kotor dengan tanah, tapi dengan hidroponik kita tidak kotor dan tidak terlalu capek,” ujar Heryanto.

Sementara anggota komunitas, H Emen memiliki lahan di rumah 80 cm x 120 cm tapi bisa menanam 70 jenis tanaman dan dinikmati setiap hari. Hasil dari menanam hidroponik selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk memenuhi pesana para peminat.

Tanaman hidroponik juga sangat bagus buat kesehatan terutama pencernaan, sehingga banyak dokter yang memesan tanaman hidroponik tersebut. Selain tanaman seperti cabai, kangkung, pakcoy, juga buah-buahan seperti tomat dan melon bisa ditanam dengan sistem hidroponik.

Semetara Pembina Yayasan Tanziilul Kariim Majalengka, Hj Lilis Lina Naoralita SAg mengaku tertarik dengan system hidroponik. Menurutnya, dengan lahan yang sempit masih bisa menanam berbagai tanaman.

Dijadwalkan, Minggu (19/2) akan digelar pelatihan hidroponik untuk para santri, orang tua santri, dan masyarakat umum tanpa dipungut biaya.

“Kalau biasanya kami menggelar kajian Alquran setiap bulan, tapi minggu depan kami akan isi dengan pelatihan hidroponik plus kajian fiqih dari segi agamanya,” tutur Lilis. (ara)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *