Akibat Hama, Petani Rugi Ratusan Juta

oleh -72 views
PANEN: Petani di Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu panen padi. Di sejumlah wilayah Indramayu, petani mengalami gagal panen akibat serangan hama. FOTO: UTOYO PRIE ACHDI/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU – Ketua DPRD Indramayu, Taufik Hidayat, meminta Dinas Pertanian agar proaktif terkait merebaknya hama wereng dan klowor (kerdil hampa). Sebab, serangan hama tersebut membuat produksi pertanian mengalami penurunan.

“Karena, salah satu penyebab munculnya hama wereng dan klowor adalah akibat petani terus menerus menanam padi dalam setahun. Padahal idealnya diselingi dengan tanaman palawija,” ujar Taufik, Jumat (4/8).

Akibatnya, ratusan hektare sawah gagal dipanen. Para petani pun terpaksa harus melakukan tanam ulang dan menderita kerugian yang cukup besar. Meski demikian, secara total, produktivitas padi di Kabupaten Indramayu masih surplus.

Seperti yang terjadi di Desa Cipedang, Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu. Di daerah tersebut, sekitar 50 persen area tanaman padi diserang hama dan mengalami gagal panen.

Hal tersebut diungkapkan anggota DPRD Indramayu asal daerah tersebut, Dalam. Dalam yang juga berasal dari keluarga petani mengatakan, petani terpaksa melakukan tanam ulang karena hama tersebut.

“Yang harus melakukan tanaman ulang bisa mencapai ratusan hektare,” tutur Dalam.

Dikatakannya, serangan hama wereng maupun klowor berlangsung cepat dan mudah menyebar. Meski sudah dilakukan upaya pengobatan, namun tanaman padi tetap tak bisa diselamatkan. Para petani pun pasrah, dan terpaksa harus melakukan penanaman ulang.

Dalam mengungkapkan, serangan hama itu di antaranya menyerang tanaman padi miliknya di lahan seluas sepuluh hektare. Menurutnya, seluruh tanaman padi miliknya tersebut mati dan harus dilakukan penanaman ulang. Padahal tanaman padi miliknya sudah berumur satu bulan.

“Kami sudah menghabiskan biaya besar untuk pengolahan lahan, penanaman, perawatan maupun pemupukan. Biaya yang telah dikeluarkannya sekitar Rp 4 juta untuk satu hektare. Kalau digabungkan dengan petani lainnya, bisa mencapai ratusan juta,” ungkapnya.

Dalam mengatakan, para petani, termasuk dirinya yang mengalami gagal panen, terpaksa harus melakukan tanam ulang pada awal Juli 2017. Hal itu pun membuat mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk modal tanam ulang.

Dia mengaku kecewa dengan tidak adanya kepedulian dari dinas terkait terhadap serangan hama yang sangat merugikan petani. Selain tak adanya bantuan pestisida, juga tak ada sosialisasi mengenai pola tanam yang dianjurkan.

“Mestinya, pihak Dinas Pertanian harus turun ke lapangan. Berikan bantuan obat (pembasmi hama, red) dan sosialisasi,” tegas Dalam. (oet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *