Harga Gabah Naik, Penyerapan Beras di Sub Divre Bulog Cirebon Turun

oleh -3 views
Ilustrasi. (dok radarcirebon.com)

CIREBON – Melonjaknya harga gabah giling kering (GKG) di tingkat petani, membuat serapan beras di Sub Divre Bulog Cirebon menurun. Berdasarkan data yang diperoleh Radar Cirebon, target serapan beras Bulog Cirebon tahun 2017 sebanyak 155 ribu ton, kini per awal Oktober 2017 baru mencapai 61 persen atau sekitar 92 ribu ton.

Kasi Pengadaan Beras Sub Divre Bulog Cirebon, Dadang Unanda menyampaikan, serangan hama wereng dan klowor, kekeringan, gabah gabug, mengakibatkan puluhan hektare persawahan di Kabupaten Cirebon gagal panen. Secara tidak langsung memengaruhi kemampuan Bulog dalam melakukan penyerapan hasil panen.

“Meski penyerapannya cenderung menurun dibandingkan tahun lalu, namun untuk penyerapan beras Bulog Sub Divre Cirebon masih tertinggi dan peringkat 1 se-Indonesia. Ini karena masih surplus,” ungkap Dadang kepada Radar Cirebon.

Adanya penurunan serapan gabah akhir-akhir ini, disebabkan harga gabah yang merangkak naik. Yakni harga GKG di tingkat petani mencapai Rp 6.500/kg, sedangkan sesuai Inpres No 05 tahun 2015, harga GKG senilai Rp 4.650/kg. Namun, kini terhitung 1 Agustus hingga 31 Desember 2017, Bulog menggunakan harga fleksibilitas dengan menaikan HET GKG 10 persen dari Inpres.

“Ya kita naikkan GKG dari Rp 4.650/kg menjadi Rp 5.115/kg, meski petani minta di atas harga itu. Namun kami siasati dengan terus memberikan pelayanan prima kepada para mitra maupun Gapoktan, sehingga mereka pada akhirnya mau menjual ke kami,” terang Dadang.

Pelayanan yang diberikan itu, lanjutnya, berupa service one day one cash. Artinya, begitu dilakukan proses jual beli, Bulog langsung membayar secara cash dan membuka pelayanan 24 jam non stop.

“Kita tidak utang, kita langsung cash. Dan begitu ada petani yang mau kirim beras, kita langsung layani kapan pun itu, meskipun malam hari,” ujarnya. Untuk stok sendiri, saat ini aman hingga 13 bulan ke depan.

“Kita stok sangat aman, ada sekitar 69.400 ton beras hingga bulan Oktober 2018. Aman lah hingga 13 bulan ke depan. Bahkan kita move ke daerah lain,” tukas Dadang.

Sementara itu, sebelumnya Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Cirebon, Tasrip Abu Bakar mengaku senang dengan naiknya harga GKG. “Kita justru senang jika GKG naik, ini pantas yang didapatkan petani karena dampak dari gagal panen kemarin,” jelasnya. (via)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *