Waswas Nyawa Melayang, Ingin Asuransi Berkelanjutan

oleh -10 views
PENUH RISIKO: Casman, nelayan Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, kini dapat beraktivitas kembali setelah menjalani pengobatan luka bakar. FOTO: JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON

NELAYAN sama halnya dengan petani. Masih dianggap sebagai profesi rendahan. Ini lantaran mayoritas mereka hanyalah nelayan kecil.

Penghasilan dari penjualan tangkapan ikan tak menentu. Kadang pulang dengan tangan kosong. Tak sebanding dengan risiko bekerja di laut.

Casman, salah satu nelayan asal Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, masih ingat betul kecelakaan yang hampir membuatnya kehilangan nyawa. Kakinya terbakar saat menuangkan bensin yang dibungkus plastik bening ke dalam jeriken.

Api yang menyala dalam tungku di dapur rumahnya secepat kilat menyambar bensin. Kakinya melepuh terbakar. Masih beruntung rumahnya tidak ikut terbakar, karena api langsung bisa dikendalikan.

Sebagai nelayan kecil, dia harus berpikir dua kali pergi ke rumah sakit untuk mengobati luka bakarnya. Jangankan berobat, untuk makan sehari-hari saja ia masih kesulitan.

“Boro-boro mikir ke rumah sakit, buat makan sehari-hari saja susah,” kata Casman di kediamannya di Desa Ambulu, Kecamatan Losari.

Melihat kondisi rekannya yang tak mampu berobat, Ketua Nelayan Ambulu, Samsuri langsung simpati. Dia membawa Casman ke Puskesmas Losari kala itu.

Akibat kakinya terbakar itu, Casman tak bisa melaut selama hampir lima bulan. Otomatis dia tak memiliki penghasilan untuk makan keluarga.

Casman sendiri tinggal bersama anak dan orang tuanya di rumah semi permanen. Pada tahun itu, belum ada bantuan asuransi untuk nelayan dari pemerintah.

Beruntung Casman akhirnya mendapat bantuan asuransi nelayan yang digagas Ditpolair Polda Jabar dan Cirebon Power. Lewat asuransi itu, Casman mendapatkan biaya perawatan senilai kurang lebih Rp 1 juta.

Samsuri-lah yang awalnya mengusulkan Casman mendapatkan bantuan tersebut. Meski jumlah yang diterima tak sebanding dengan biaya pengobatan, tapi cukup bernilai. Lantaran pada tahun itu belum ada asuransi bagi nelayan.

Beberapa warga yang peduli akhirnya ikut mengulurkan tangan. Terutama untuk kebutuhan hidup, ketika Casman tak bisa melaut selama lima bulan itu.

“Asuransi ini sangat penting, ini tetap harus dilanjutkan. Tahun ini katanya ada program dari pemerintah, tapi kami harap ini bisa dilanjutkan dari tahun ke tahun,” kata Samsuri, tokoh nelayan Ambulu yang membantu mengurus asuransi nelayan.

Pekerjaan nelayan memiliki risiko tinggi. Mereka juga umumnya merupakan warga yang berpenghasilan rendah.

Seperti halnya Casman, yang hanya memiliki perahu ukuran kecil. Sekali melaut, Casman hanya bisa mendapat Rp 30-Rp 50 ribu. Sementara modal yang dikeluarkan paling tidak Rp 20 ribu untuk membeli bensin dua liter.

Casman hanya mencari ikan di seputaran pantai. Tak sampai dua mil dari lepas pantai. Dia menggunakan jaring untuk menangkap ikan, terutama bandeng. “Ya kalau nggak dapat ikan, rugi, nggak ada hasil. Modal sudah keluar untuk beli bensin dua liter,” tambah Casman. (jamal suteja)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *