Transaksi Digital Pengaruhi Penjualan Produk Asuransi

oleh -8 views
Ilustrasi. Foto: Pixabay.com

JAKARTA – Pergeseran perilaku transaksi nasabah perbankan menuju digital berpengaruh terhadap penjualan produk asuransi melalui jalur distribusi bancassurance. Sehingga prediksinya, penjualan produk asuransi pola lama itu hanya akan bertahan 5-10 tahun ke depan.

“Nasabah bank sudah jarang sekali datang ke bank. Dalam setahun mungkin hanya 1-2 kali. Karena kartu ATM tertelan mesin atau ajukan kredit. Hampir semua transaksi bank sekarang pakai digital, jadi kita semakin susah untuk bertemu calon nasabah,” ujar Director of In Branch Channel AXA Mandiri Tisye D Retnojati akhir pekan lalu (2/12).

Padahal sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), produk unit link harus dijual secara tatap muka, belum dapat dipasarkan lewat telemarketing ataupun digital di dunia maya. Saat ini jalur bancassurance memberi kontribusi 80 persen dari pendapatan premi AXA Mandiri.

Sisanya dari lini alternatif seperti telemarketing, digital, dan bisnis korporat. Untuk itu perusahaan asuransi harus segera mencari solusi jika ingin tetap bertahan.

Tisye mengakui, shifting nasabah bank ke digital menjadi tantangan paling berat bagi perusahaan asuransi yang mengandalkan jalur distribusi bancassurance. Dari jalur distribusi itu, AXA memperoleh pendapatan premi 74 persen dari unit link dan 26 persen dari produk tradisional.

“Meski tantangan berat, kami masih menjadi pemimpin pasar di jalur distribusi bancassurance di Indonesia dengan pangsa pasar 18,6 persen,” tegasnya.

AXA Mandiri telah menyiapkan beberapa strategi baru untuk diterapkan di tahun 2018, terutama untuk mengantisipasi semakin berkurangnya nasabah yang datang ke bank. Sebab jika hal tersebut tidak dilakukan maka bisnis bancassurance bisa mati tergerus zaman.

“Shifting transaksi ini akan kita antisipasi dengan berbagai strategi. Salah satunya customer services kami yang datang ke nasabah untuk jemput bola,” kata dia.

Pihaknya melihat penambahan Financial Advisor (FA) asuransi di kantor cabang bank tidak cukup efektif. Sebab pertumbuhan cabang bank tidak terlalu pesat. Umumnya penambahan jumlah FA hanya sekitar 5 persen pertahun.

“Saat ini kami mempunyai 2.300 financial advisor yang ditempatkan di 2.100 kantor cabang, dari total 3.000 cabang Bank Mandiri di 12 region,” sebutnya.

Dari sebaran itu, lanjut Tisye, 55 persen nasabah berasal dari kantor AXA Mandiri di region 3,4 dan 5 yakni di Jabodetabek dan Karawang. Porsi terbesar kedua disumbang Surabaya, disusul Medan, dan Bandung.

Tisye memperkirakan jalur distribusi bancassurance hanya akan bertahan 5-10 tahun ke depan. “Kontribusi bancassurance porsinya akan berkurang dari 80 persen menjadi 50-60 persen beberapa tahun lagi,” jelasnya. (wir/arm/tih/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *