2018, Tingkat Inflasi Kota Cirebon Terjaga, Januari 2019 Ada Tekanan

Kepala KPw BI Cirebon Abdul Majid Ikram diwawancari wartawan. FOTO:APRIDISTA SITI RAMDHANI/RADAR CIREBON
Kepala KPw BI Cirebon Abdul Majid Ikram diwawancari wartawan.FOTO:APRIDISTA SITI RAMDHANI/RADAR CIREBON

CIREBON-Tingkat inflasi Kota Cirebon tahun 2018 mencapai 2,80 persen year on year (yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan inflasi nasional 3,13 persen (yoy) dan Jawa Barat 3,54 persen (yoy). lnflasi inti menurun dari tahun sebelumnya sebesar 2,44 persen, menjadi sebesar 2,05 persen. Ini sejalan dengan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan ekspektasi inflasi.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Cirebon M Abdul Majid Ikram mengatakan, faktor pendorong risiko inflasi di tahun 2019 sendiri antara lain kenaikan harga pakan ternak global, kenaikan Suku Bunga The Fed 2019 dan faktor cuaca.

Sedangkan faktor penahan inflasi yaitu penurunan harga bahan bakar non subsidi, tidak adanya kenaikan cukai rokok, tidak adanya kenaikan tarif dasar listrik, dan penguatan mata uang rupiah. “Januari 2019 diperkirakan masih terdapat tekanan inflasi khusunya dari komoditas volatile food, seperti beras, daging ayam ras, dan cabai rawit,” ujar Majid kepada wartawan.

Capaian inflasi yang rendah dibandingkan inflasi nasional dan Jawa Barat tidak lepas dari peran serta media massa dan stakeholder. Peran media massa dalam menyampaikan pesan yang sudah dilakukan Bank Indonesia dan apa yang harus dilakukan masyarakat. “Tanpa teman-teman (media massa) masyarakat tidak akan tahu program yang dilaksanakan BI, seperti operasi pasar dan pasar murah,” katanya.

Lanjutnya, stakeholder yang terlibat dalam hal ini antara lain pemerintah, pelaku usaha, bulog, PPI, dan Hiswana Migas. Meski begitu, di saat inflasi rendah, penyaluran pembiayaan di Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) dikatakan Majid masih belum optimal, padahal potensinya cukup besar. KPw BI Cirebon mendorong perbankan meningkatkan pembiayaan. “Menurut hemat kami pembiayaan masih belum optimal. Tingkat penyaluran pembiayaan mesti kita dorong karena peluangnya cukup besar,” jelasnya.

Bila masalahnya karena kredit macet, perlu pembenahan pada manajemen perbankan, dan selektif terhadap debitur. Sebab, potensi pasar masih cukup besar. Apalagi, adanya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kabupaten Majalengka. “BIJB harus dimanfaatkan secara baik karena sebagai salah satu penggerak ekonomi wilayah kita,” tukasnya. (apr)