Pemkab Majalengka Siapkan Kawasan Pertanian Organik

oleh -38 views
Areal Pertanian di Kecamatan Argapura, bakal menjadi salah satu kawasan pertanian organik. FOTO: DOK.RADAR CIREBON

MAJALENGKA–Pemerintah Kabupaten Majalengka bakal menjadikan beberapa kawasan di Argapura, Banjaran, Sindangwangi, Sindang, dan Lemahsugih sebagai kawasan pertanian organik.

Bupati Majalengka DR H Sutrisno MSi mengatakan pihaknya akan membuat sentra hortikultura organik untuk memenuhi kebutuhan pasar. Program tersebut bakal memberikan nilai jual yang cukup tinggi khususnya untuk menyejahterakan para petani.

“Sayuran organik yang dihasilkan petani Majalengka akan jauh lebih baik dari hasil pertaian di wilayah lain. Pertanian hortikultura di wilayah Majalengka seluruhnya berada di pegunungan atau dataran tinggi,” tuturnya.

Sehingga, sangat kecil kemungkinan tanaman tersebut terkontaminasi pupuk kimia. Berbeda dengan tanaman yang ditanam di dataran rendah. Bupati mengaku sudah melakukan survei ke sejumlah pasar sayuran organik di sejumlah wilayah. Permintaan sayuran organik cukup tinggi dan harganya juga sangat tinggi. Sehingga petani akan memiliki nilai lebih dari produk pertaniannya.

Kawasan pertanian organik sekaligus bisa dijadikan areal wisata edukatif untuk anak-anak atau wisatawan dari luar kota. Wisatawan akan membawa nilai tambah bagi para petani Majalengka. “Apalagi di wilayah-wilayah tersebut banyak objek wisata alam yang kini sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun luar. Selain mereka berkunjung ke areal perkebunan sayuran organik, juga bisa mengunjungi tempat wisata lainnya,” paparnya.

Dia menyebutkan, jenis sayuran yang bisa dikembangkan dan sangat banyak dikonsumsi masyarakat semua kalangan hingga menu makanan di perhotelan antara lain sawi, brokoli,  wortel, dan kentang. Sayuran tersebut juga masa tanamnya relatif lebih singkat, sehingga petani bisa lebih cepat panen dan mendapat keuntungan.

Terpisah, sejumlah petani di wilayah Argapura menyambut baik rencana pemerintah daerah tersebut. Mereka berharap ada bimbingan dari pemerintah mulai cara tanam hingga pemasaran produksinya.

“Selama ini para petani hanya menjual ke pasar tradisional yang harganya sesuai pasar. Petani sangat siap tanam hanya ketika panen harus ada penyalurannya. Petani belum mengetahui kemana pemasarannya agar harga jualnya tinggi,” tandas Asep, salah seorang petani. (ono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *