Rokok, Akar dari Masalah Jantung Hingga Masalah Keluarga

oleh -15 views
HTTS: Temu Media Kementrian Kesehatan RI dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang akan diperingati tanggal 31 Mei 2018 mendatang. HUMAS KEMENKES/ADARCIREBON.COM
HTTS: Temu Media Kementrian Kesehatan RI dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang akan diperingati tanggal 31 Mei 2018 mendatang. HUMAS KEMENKES/ADARCIREBON.COM

JAKARTA – Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang diprakarsai Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diperingati setiap tahun di seluruh dunia setiap tanggal 31 Mei. Tahun ini HTTS mengusung tema Tobacco Breaks Heart, menyoroti isu dampak tembakau pada jantung.

Di Indonesia, Kementrian Kesehatan menetapkan tema nasional Rokok Penyebab Sakit jantung dan Melukai Hati Keluarga, dalam kampanye dan peringatan HTTS, yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2018 di Jakarta.

“Penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan sroke, setiap tahunnya membunuh 17,7 juta orang di dunia. Sekitar 31% dari jumlah kematian global. Di Indonesia stroke (21,1%) dan penyakit jantung (12,9%) menjadi pembunuh nomor satu terbesar dan dua dari seluruh kematian di Indonesia.” Ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Cut Putri Arianie, M HKes dalam kegiatan Temu Media di kantor Kemenkes , Jakarta Selatan Jumat siang (25/5).

Dalam paparannya tersebut dijelaskan bahwa menurut WHO, tambakau adalah produk yang setiap tahun mengakibatkan lebih dari 7 juta kematian dan kerugian ekonomi sebesar USD 1,4 triliun, dihitung dari biaya perawatan dan hilangnya produktifitas karena kehilangan hari kerja.

Selaras dengan hal tersebut data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) bidang kesehatan tahun 2016 menyatakan bahwa pembiayaan perawatan kesehatan untuk penyakit jantung mencapai 7,4 triliun rupiah, lebih dari 10% dibanding total iuran BPJS tahun 2016 sebesar 67,4 triliun rupiah.

“Ongkos yang digunakan untukl mendukung perawatan penyakit jantung bukanlah yang mudah ditanggung keluarga. Banyak diantara kita menjadi saksi kepala keluarga yang meninggal diusia produktif. Beban yang harus dipikul keluarga karena meninggalnya peyangga ekonomi keluarga, tentu tak terhitung harganya.”sambungnya.