CIREBON-Sebelum infrastruktur jalan berkembang seperti saat sekarang, jalur laut merupakan satu-satunya penghubung utama antara satu daerah ke daerah lainnya. Wilayah pesisir berkembang begitu cepat karena banyaknya pendatang.

R Udin Raenudin

Cirebon menjadi salah satu daerah yang pada masa lalu mengalami perkembangan dengan cepat. Hal ini karena pada saat itu, Cirebon memilik salah satu pelabuhan terbesar di nusantara. Banyaknya pendatang dari mulai pedagang, saudagar dan lain-lainnya membuat akulturasi budaya, kepercayaan dan keturunan pun terjadi dengan cepat.

Nama pelabuhan kuno tersebut hingga saat ini masih diabadikan menjadi salah satu nama dermaga di Pelabuhan Cirebon. Sempat berganti beberapa nama, pelabuhan tersebut berada dipuncak keemasannya saat dikenal dengan nama pelabuhan Muara Jati.

Beberapa ahli sejarah dan filolog sepakat jika Pelabuhan Muara Jati adalah salah satu pelabuhan terbesar di nusantara bahkan di dunia. Salah satu buktinya adalah ketika Laksamana Cheng Ho beserta armadanya merapat dan berlabuh di Pelabuhan Muara Jati.

“Salah satu bukti besarnya Pelabuhan Muara Jati adalah dengan datangnya Cheng Ho ke Cirebon. Bisa dibayangkan besarnya armada dan kapal-kapal Cheng Ho saat itu,” ujar sejarawan Cirebon yang juga Sekdis Perhubungan Kabupaten Cirebon, R Udin Kaenudin saat ditemui Radar Cirebon.

Dikatakan mantan Camat Gunung Jati tersebut, dari beberapa keterangan dan hasil kajian, Pelabuhan Muara Jati membentang dari wilayah Muara (Suranenggala) hingg Astana (Gunungjati). “Buktinya ada sampai sekarang, seperti di muara ada situs Ki Pandu, atau orang yang memandu kapal. Dan Blok Pabean di Desa Purwawinangun yang diyakini sebagai Kapabeanan atau cukai pada masa Pelabuhan Muara Jati. Ada juga Celancang, yang dulu sebagai tempat nyangcang (mengikat) kapal,” papar pria yang beberapa waktu lalu sempat mendaftar sebagai bakal calon Walikota Cirebon tersebut.

Menurut pria yang merupakan keturunan Pancer dari Kerajaan Singhapura tersebut, Pelabuhan Muara Jati mencapai era keemasannya pada masa Kerajaan Singhapura atau sebelum era Keraton atau Kesultanan Cirebon.

Menurut R Udin, ada beberapa alasan kenapa saat itu Pelabuhan Muara Jati dipindah ke Pelabuhan Cirebon yang ada saat ini. Salah satunya adalah sedimentasi atau pendangkalan yang begitu cepat di Pelabuhan Muara Jati. Alasan lainnya karena saat itu juga, Kerajaan Singhapura perlahan meredup dan pusat pemerintahan kemudian dipindah ke Cirebon seiring dimulainya era Kesultanan Cirebon.

“Pelabuhan Muara Jati sempat berganti nama menjadi Pelabuhan Tanjung Mas, kemudian nama pelabuhan tersebut digunakan untuk pelabuhan di Semarang dan akhirnya pelabuhan menggunakan nama Pelabuhan Cirebon sampai dengan sekarang,” bebernya.

Sementara itu, Filolog Cirebon DR R Achmad Opan Safari Hasyim SAg MHum kepada Radar Cirebon mengatakan, jika Pelabuhan Muara Jati dibangun oleh Pangeran Surawijaya Sakti sekitar tahun 1373. Saat itu Pangeran Surawijaya Sakti menentukan Surantaka (suranenggala) sebagai pusat pemerintahanya. “Kalau sekarang berarti lokasinya di sekitar Desa Keraton,” katanya.

Menurutnya, Pelabuhan Muara Jati menjadi salah satu akses tercepat untuk keluar masuk wilayah sekitar Cirebon. Komoditi yang dikirim dari Pelabuhan Muara Jati kebanyakan berasal dari wilayah Hinterland (Cirebon Girang).

“Komoditi yang dikirim tersebut kebanyakan berupa rempah-rempah, selain itu juga barang kebutuhan lainnya seperti gula aren, kopi, beras dan kayu yang paling khas adalah kayu jati,” tambahnya.

Dilanjutkan R Opan, kerajaan di wilayah Cirebon Girang tersebut dipimpin oleh Pangeran Giri Dewata atau Ki Ageng Kasmaya. Peristiwa bersejarah lainnya yang terjadi adalah wafatnya Pangeran Surawijaya Sakti. Kerajaan pun saat itu dipimpin oleh putra Ki Ageng Kasmaya yang bernama Ki Gedheng (ageng) Tapa yang kemudian memulai era keemasan Kerajaan Singhapura.

Ki Gedheng Tapa sendiri setelah diangkat menjadi raja kemudian memindahkan pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di Surantaka (Keraton) ke sebelah selatan bengawan Celancang yang disebut Mertasinga. Kerajaanya sendiri diberi nama Singhapura.

“Begitu pula setelah Ki Ageng Kasmaya Raja Wanagiri wafat, dia menyerahkan kerajaanya pada Ki Ageng Tapa. Singhapura menjadi besar setelah Ki Ageng Tapa menggabungkan Kerajaan Wanagiri, dan kerajaan Japura yang saat itu berhasil ditaklukan oleh Pangeran Jaya Dewata (Prabu Siliwangi, red),” jelasnya.

Ditambahkan R Opan, banyak bukti sejarah yang masih bisa dilihat secara kasat mata terkait eksistensi Pelabuhan Muara Jati. Beberapa di antaranya adalah data arkeologis, fakta linguistik dan sumber tertulis yang masih ada sampai sekarang.

“Sumber naskah yang menjelaskan detail tentang Pelabuhan Muara Jati tertuang dalam naskah Purwaka Caruban Nagari. Naskah Negara Kertabhumi. Buku Ying Yai Seng Land An, buku suma oriental,” paparnya.

Selain itu, menurut R Opan, data arkeologis yang bisa dijumpai untuk menguatkan fakta Pelabuhan Muara Jati adalah situs Ki Pandu, situs Ki Alap- alap, Situs Nyai Rinjing, Situs Ki Jaksa, Bale Mangu, Bale Lebu, Bale Dalem di Sirnabaya yang paling fenomenal, Situs Lawang Gede Mertasinga. “Menurut saya puncak keemasan Pelabuhan Muara jati saat itu adalah psda saat Cheng Ho beserta armadanya datang sekitar tahun 1415,” ungkapnya.

Terpisah, Kuwu Desa Gunung Jati, Nuril Anwar ST kepada Radar Cirebon mengatakan, Pelabuhan Muara Jati diyakini dulunya berada persis di balik situs Gunung Jati. Banyak fakta yang mendukung dari informasi tersebut seperti seringnya ditemukan fosil kerang dan sering ditemukannya piring kuno dari China.

“Warga sekitar yakin jika di balik Situs Gunung Jati ada bekas pelabuhan kuno. Selain dari cerita orang-orang terdahulu dan rang yang tahu sejarah, keyakinan itu juga muncul dari seringnya ditemukan benda-benda berupa piring dan keramik China di lahan atau perkarangan di belakang Gunung Jati,” pungkasnya. (dri)