Donor Darah Gratis, saat Butuh Transfusi Kenapa Bayar?

oleh -73 views
0-ok-okri--stok-darah-di-PMI-(11)
Petugas PMI memperbaharui stok darah, belum lama ini. Permintaan golongan darah B paling tinggi bulan ini. FOTO:OKRI RIYANA/DOK/RADAR CIREBON

CIREBON–Sering ada pertanyaan dari masyarakat. Pendonor memberikan darahnya secara sukarela. Tetapi, kenapa Palang Merah Indonesia (PMI) menarik biaya kepada pasien yang butuh transfusi?

Pertanyaan semacam ini bukan satu atau dua kali terucap. Bahkan di sela-sela kegiatan donor darah kerap diungkapkan. Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Cirebon dr Sugianto meluruskan persepsi soal biaya. Dijelaskan, uang yang dibayarkan adalah biaya pengolohan darah. Nilainya memang tidak sedikit. “Perlu ditekankan, masyarakat itu sebetulnya tidak membeli darah. Itu biaya pengganti pengolahan darahnya,” jelas Sugianto kepada RadarCirebon.

Pengolahan darah dimulai dari tes laboratoruim. Kemudian pemeriksaan penyakit, biaya pembuangan limbah, kantung darah, hingga operasional pegawai. Itu sebabnya setiap ada donor darah melalui donor pengganti, tetap dikenakan biaya pengelohan darah.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan, satu labu darah memiliki nilai biaya pengganti pengolahan Rp360 ribu per labu. Sedangkan untuk pengajuan darah sendiri, tidak dilakukan secara perorangan. Akan tetapi harus mengajukan melalui rekomendasi dari rumah sakit.

Sementara itu, permintaan golongan darah B pada bulan ini cukup tinggi. Padahal, stoknya paling sedikit. Terhitung 9 Agustus, hanya tersedia 14 labu Whole Blood (WB) atau darah utuh, 23 labu Packed Red Cells (PRC) atau sel darah merah dan 12 labu trombosit (TR). “Tiap bulan beda-beda, bulan ini paling tinggi itu darah B dan AB,” tutur Sugianto.

Dari data PMI, stok darah AB juga sedikit. WB stok tersedia 18 labu, PRC 48 labu, dan untuk TR tidak ada stok. Namun demikian, Sugianto memastikan stok dalam posisi masih aman. Dalam satu bulan ke depan jadwal pelaksanaan donor darah keliling sudah penuh. “Kalau melihat jadwal ini, kami optimis stok masih aman,” tuturnya.

Rata-rata permintaan darah sendiri di PMI Kota Cirebon, sekitar 30-40 labu darah per hari. Paling tinggi memang bisa mencapai 50-60 labu darah per hari. Hal ini bergantung dari permintaan dari rumah sakit. Sejauh ini, PMI melayani rumah sakit lain yang mengajukan permintaan darah. Sedangkan untuk RSD Gunung Jati, sistemnya mengunakan dropping melalui Bank Darah Rumah Sakit (BDRS). “Dropping BDRS RS Gunung Jati ini kami tidak memberikan darah siap pakai. Mereka uji silang serasi sendiri, itu kami dropping seminggu dua kali,” bebernya.

Sementara untuk permintan dari RS lain, PMI menyediakan darah yang sudah siap pakai. Artinya sudah melalui tes atau cek dari empat penyakit berbahaya. Kebanyakan permintaan darah ini untuk kebutuhan anemia. Atau pun kanker yang menyebabkan kurang darah. Termasuk juga kekurangan zat besi, yang membutuhkan jenis darah sel darah merah. (jml)