Debut di Asian Games 2018, Dewi Atiya Tetap Jadi Pahlawan Kota Cirebon

oleh -10 views
Pegulat Kota Cirebon, Dewi Atiya berusaha menjungkalkan Ayaulym Kassymova di Asian Games 2018. FOTO: DOK.TATA NG RUSMANTA /RADAR CIREBON
Pegulat Kota Cirebon, Dewi Atiya berusaha menjungkalkan Ayaulym Kassymova di Asian Games 2018. FOTO: DOK.TATA NG RUSMANTA /RADAR CIREBON

Senyum tetap terlihat manis pada diri Dewi Atiya usai kalah oleh pegulat Kazakhstan, Ayaulym Kassymova, Senin siang (20/8). Pegulat Kota Cirebon itu tumbang di laga perdana kelas 62 kg putri Asian Games 2018.

Tatang Rusmanta, Jakarta

DEWI tiba di Assembly Hall Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta, pukul 11.30. Dia menyempatkan diri menyapa sang Ibunda, Asliyah yang menunggu di luar arena pertandingan bersama Ketua Umum KONI Kota Cirebon, Hj Wati Musilawati, serta pengurus dan para atlet PGSI Kota Cirebon.

Samar-samar, tampak ketegangan pada raut wajahnya. Tapi, pegulat 25 tahun itu tetap berusaha tenang menghadapi debutnya di pesta olahraga terakbar se-Asia tersebut. Pertandingan cabang gulat digelar pukul 13.00. Dewi baru berlaga di pertandingan ke-24. Sebelum Dewi turun gelanggang, sudah empat pegulat Indonesia yang disingkirkan lawan-lawannya. Semuanya kalah telak.

Hari itu, seakan menjadi kuburan bagi para pegulat Tanah Air. Dukungan penuh ratusan suporter tidak mengubah situasi. Dewi pun melengkapi kekalahan pegulat tuan rumah. Ayaulym Kassymova membuatnya tak berkutik. Dewi memang mampu bertahan hingga babak kedua. Namun, dia gagal menghasilkan poin. Pegulat asal Kazakhstan itu pun menang mutlak dengan skor telak 10-0.

Selama pertandingan, Dewi berusaha keras keluar dari tekanan. Namun, sekeras apa pun dia mencoba, Kassymova tetap berhasil mendominasi. Pegulat juara dunia junior itu memang terlalu tangguh bagi Dewi. Dan itu adalah kekalahan kedua Dewi dari Kassymova. Tahun lalu, keduanya berhadapan di ajang Asian Indoor & Martial Arts Games 2017 yang berlangsung di Ashgabat, Turkmenistan. Di event itu, Ayaulym meraih emas.

“Tapi kali ini saya merasa tampil lebih baik dari tahun lalu di Ashgabat,” ujar Dewi seraya tersenyum lega seakan terbebas dari beban berat yang selama ini ada di pundaknya.

Pegulat kelahiran Cirebon, 2 Agustus 1993 tersebut tak menampik bahwa performanya mengecewakan. Tapi, dia tidak menyesalinya. Dia memang tidak punya ekspektasi yang tinggi di multievent empat tahunan tersebut.

“Saya memang tidak mengharapkan juara. Dan memang tidak ditargetkan juara oleh PGSI. Jadi, saya hanya berusaha tampil semaksimal mungkin. Saya sudah lakukan segalanya, dan inilah hasil yang harus saya terima,” ungkapnya.

Dewi bergabung dengan Pelatnas Gulat di akhir tahun 2016. Dengan bermodalkan medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016 dan kejuaraan nasional (kejurnas) setahun kemudian, dia bertahan dalam skuad utama yang disiapkan PP PGSI untuk Asian Games. Selain menjalani training camp di Tanah Air, Dewi dkk juga dikirim ke Bulgaria. Terakhir, mereka dipusatkan di Icuk Sugiarto Training Camp yang berada di Sukabumi, Jawa Barat.

Namun, bagi Dewi, serangkaian program pembinaan itu terasa masih kurang. “Kalau di negara lain, pemusatan latihan itu sudah dimulai empat tahun sebelum Asian Games. Sementara kita, dua tahun juga kurang, dan sempat terputus-putus,” tuturnya.

Setelah ini, Dewi berharap bisa bertahan di pelatnas. Dia masih ingin menaikan level kemampuannya. Dia mengincar prestasi di SEA Games 2019. Sementara itu, dia optimistis bisa menyumbang emas bagi kontingen Kota Cirebon di Porda Jabar XIII/2018 yang akan dihelat di Kabupaten Bogor, Oktober mendatang. “Untuk bertahan di pelatnas, saya harus bisa meraih emas Kejurnas 2018 November mendatang,” katanya.

Kendati takluk di pertandingan pertama dan meraih hasil nihil di Asian Games perdananya, Dewi tetap jadi juara di mata rekan-rekan dan keluarga. Asliyah, sang Ibu, tetap bangga. “Tentu saja bangga karena Dewi bertanding membela nama bangsa. Meski kalah, tapi saya tahu dia sudah berjuang keras,” katanya.

Di mata KONI dan PGSI Kota Cirebon, Dewi pun tetap pahlawan. Dia telah mencatat sejarah sebagai pegulat Kota Udang pertama yang tampil di Asian Games. Kemunculan Dewi menjadi fenomena tersendiri. Sebab, prestasinya ditandai dengan serba yang pertama. Dia juga pegulat putri Kota Cirebon pertama yang sukses meraih emas di Porda sekaligus PON.

“Dewi telah mengukir sejarah. Apa pun hasilnya di Asian Games ini, dia tetap pahlawan bagi Kota Cirebon. Terima kasih Dewi, dan tentu saja seluruh pengurus PGSI Kota Cirebon,” ujar Wati. (*)