Tolak Aklamasi di Kongres, ISNU Butuh Pemimpin yang Proaktif

oleh -13 views

BANDUNG – Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menggelar kongres kedua di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung. Kongres yang berlangsung tiga hari sejak Jumat hingga hari ini (24-26/8) itu pada puncaknya memilih ketua umum baru.

Menurut Ketua Cabang ISNU Kabupaten Cirebon Abdul muiz Syaerozie, sebagai lembaga yang menghimpun para sarnaja, ISNU ke depan membutuhkan pemimpin yang proaktif. Bukan pemimpin menaragading yang tidak mampu membikin terobosan-terobosan baru, hingga dapat dikenal dan disegani khalayak publik.

Menurut Muiz, periode kepemimpinan Ali Masykur Musa memang cukup bagus. Fokusnya membentuk struktur sampai ke tingkat pengurus cabang sebagai amanat kongres pertama.

Namun demikian, pada periode Ali, ISNU kurang menggelinding cepat di kalangan publik. Kalah cepat dengan gerak badan otonom (banom) lain di NU. Bahkan publik lebih mengenal Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) ketimbang ISNU.

“PC ISNU Cirebon mengapresiasi apa yg dilakukan Cak Ali. Namun PC ISNU menolak untuk aklamasi sebagaimana wacana yang berkembang di kalangan pengurus PW ISNU se-Indonesia. Sebab, aklamasi hanya akan menutup pintu bagi intelektual-intelektual NU yang memiki kemampuan untuk ikut bertarung dan berkontribusi di kongres kali ini,” kata Muiz.

Sementara itu, ada beberapa bakal calon yang menguat di kalangan peserta kongres. Antara lain Prof Mahfud MD, Menakertrans Hanif Dakhiri dan Nusron Wahid.

Nusron Wahid sendiri menyatakan ketidaksiapannya memimpin ISNU. Sedangkan Hanif dan Mahfudz mash belum mendapatkan berita kesiapannya.

Selain tiga tokoh itu, Ali Masykur Musa juga banyak disebut untuk meneruskan kepemimpinan ISNU oleh para pengurus wilayah. Selain Ali, ada Prof Nur Kholis Setiawan yang sudah menyatakan kesiapannya.

Terkait dengan Kongres ISNU kedua di Uninus Bandung, PC ISNU Cirebon mendelegasikan enam orang pengurusnya untuk hadir di acara kongres. (rls/hsn)