Tebar Optimisme, Gus Muwafiq Minta Umat Tak Cepat Terpancing

oleh -11 views
dri---gus-muwafiq-danmenteri-desa-(63)
Gus Muwafiq bersama Mendes PDT dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menghadiri Haflah Dzikro Mauludurrosul Muhammad SAW dan Mendak KH Dimyati ke-48 di Ponpes Gedongan, Pangenan, Minggu (11/11). FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Indonesia bisa menjadi negara dengan ekonomi terkuat nomor 4 di dunia pada tahun 2050. Kondisi tersebut bisa terwujud jika pembangunan yang dilakukan pemerintah saat ini terus dilakukan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo saat menjadi salah satu pembicara dalam acara Haflah Dzikro, Mauludurrosul Muhammad SAW dan Mendak KH Dimyati ke-48 di Pondok Pesantren (Ponpes) Gedongan, Pangenan, Minggu (11/11).

Disampaikan, saat ini secara ekonomi Indonesia ada di urutan ke-16 terbesar di dunia. Indonesia bukan hanya besar dari segi jumlah penduduk yang menempatkannya pada urutan ke-4 jumlah populasi terbanyak, tapi juga sangat punya potensi untuk bisa menjadi negara besar dengan segala sumber daya yang dimiliki. “Kita satu-satunya negara dengan pulau terbanyak di dunia. Sampai 17 ribu pulau. Kita juga negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Sumber daya alam yang melimpah,” ujarnya.

Pemerintah saat ini, menurut Eko, sedang melakukan upaya terbaik untuk masyarakat dengan setiap tahunnya mengurangi angka kemiskinan, angka pengangguran, dan mengurangi kesenjangan. Menurut Eko, jika kesenjangan masih ada, maka persatuan dan kesatuan pasti akan terganggu.

Akan ada kelompok-kelompok yang tak puas. “Maka  saat ini pemerintah tengah gencar membangun infrastruktur. Tidak hanya pada fisiknya, tapi pada hal-hal lain juga. “Memang betul saat ini masih ada masyarakat miskin. Memang betul masih ada desa yang tertinggal. Tapi angka itu tiap tahun terus dikikis dan dikurangi,” imbuhnya.

Masih kata Eko, sejak dahulu Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang selalu menyurakan pentingnya menjaga kesatuan dan persatuan NKRI. Dan, lanjut ia, meski sebagai mayoritas, NU tidak bersikap otoriter. NU setiap saat selalu merangkul kelompok lain dan minoritas untuk bersama-sama menjaga NKRI.

Masih dari lokasi yang sama, Pengasuh Ponpes KH Mukhlas Dimyati mengatakan kegiatan yang dilakukan kemarin dalam rangka maulidan dan mendak ke-48 sang ayah. Pria yang beberapa waktu lagi akan berusia 76 tahun itu menuturkan, meskipun dalam kesempatan tersebut mengundang perwakilan pemerintah pusat melalui menteri, namun pihaknya tidak akan meminta apapun dari menteri. “Saya sudah cukup. Saya tidak akan minta apapun dari Pak Menteri. Tadinya direncanakan yang mau hadir itu ada juga Cak Imin (Muhaimin Iskandar, tapi berhalangan hadir,” jelasnya.

Dalam acara tersebut selain dihadiri oleh Menteri Desa, hadir pula KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq. Dalam cerahmnya, ia menyampaikan pentingnya pengendalian diri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Menurut pria kelahiran 1974 tersebut, sudahsejak lama banyak pihak yang ingin menggoreng isu dan membenturkannya dengan NU.

Namun, sambungnya, NU dan santri-santrinya tidak pernah merespons dan membiarkan gorengan tersebut gosong dengan sendirinya di dalam wajan. “Kalau semuanya ditanggapi kapan selesainya. Biarkan isu negatif itu ibarat gorengan. Tak usah direspons berlebihan.Ibarat gorengan yang tak usah diapa-apain akan gosong dengan sendirinya di dalam wajan,” ungkapnya. (dri)