Tagihan Rumah Sakit Rp5 Juta, Jenazah Bayi Ditukar BPKB Motor

oleh -15 views
Toefan Nugraha dan Muslika menunjukkan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah desa. Keduanya kehilangan bayi Muhammad Akmal Safanka yang meninggal di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Cirebon. FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
Toefan Nugraha dan Muslika menunjukkan surat keterangan tidak mampu dari pemerintah desa. Keduanya kehilangan bayi Muhammad Akmal Safanka yang meninggal di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Cirebon. FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Miris. Jenazah Muhammad Akmal Safanka harus tertahan di rumah sakit. Tidak bisa dipulangkan secepatnya untuk dimakamkan. Pihak keluarga harus membayar tagihan sebesar Rp5 juta. Meski sudah siap dengan dana awal Rp3 juta, pihak rumah sakit tak mau menerima uang itu. Negosiasi mentok.

Akhirnya BKPB motor ditahan di rumah sakit sebagai jaminan. Setelah itu, jenazah baru bisa dipulangkan untuk dimakamkan. Cerita pilu ini datang dari keluarga tak mampu asal Gintungranjeng, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon. Yakni pasangan suami istri (pasutri) Toefan Nugraha (22) dan Muslika (18).

Data yang dihimpun Radar Cirebon, bayi Muhammad Akmal Safanka lahir pada Senin malam (12/11) sekitar pukul 22.30 di salah satu rumah sakit swasta di Kabupaten Cirebon. Kondisinya tidak seperti bayi pada umumnya. Yakni tidak bisa menangis atau mengeluarkan suara. Sang bayi pun meninggal pada Selasa sore (13/11) sekitar pukul 17.39.

Meninggalnya Muhammad Akmal Safanka didiagnosa akibat keracunan ketuban. “Awal kontraksi Subuh dan dirawat di Puskesmas Gintungtengah sampai jam 4 sore. Dari situ pindah ke Puskesmas Gempol sampai jam 8 malam, dan dirujuk ke rumah sakit,” ujar Toefan kepada Radar Cirebon.

Di rumah sakit itulah, peristiwa miris itu terjadi. Toefan menceritakan, tagihan yang harus dilunasinya pada saat itu sebesar Rp5 juta. Harus dibayarkan saat itu juga agar bisa membawa pulang jenazah anaknya. Pihak keluarga, kata Toefan, tak mempunyai uang sebanyak itu. Mereka mengupayakan mencicil dengan menyerahkan dana awal Rp3 juta.

Pihak rumah sakit, menurut Toefan, enggan menerima uang itu dan meminta jaminan jika ingin tetap membawa pulang jenazah dengan segera. Pada akhirnya Toefan meminjam BPKB motor milik mertuanya dan diserahkan ke pihak rumah sakit.

“Sekitar jam 8 malam jenazah baru bisa saya bawa pulang, bersamaan dengan penyerahan BPKB yang saya pinjam milik mertua. Karena sudah malam, jenazah baru dikuburkan keesokan harinya (14 November, red),” ujar Toefan didampingi istrinya Muslika.

Pihak keluarga sangat menyesalkan kejadian itu. Toefan mengatakan sudah mengupayakan secara maksimal untuk menutupi biaya rumah sakit. “Namun bagaimana, saya tak punya uang lagi,” ujar Toefan yang sehari-hari berjualan buah kepundung itu.

Ia berharap, ke depan peristiwa tertahannya jenazah akibat tidak mampu melunasi tagihan itu tidak terjadi kepada keluarga lain. “Cukup keluarga saya yang merasakan bagaimana mirisnya ketika jenazah anak tidak bisa segera dibawa pulang dengan alasan tidak dapat melunasi tagihan,” ucapnya.

Masih menurut Toefan, hingga kemarin BPKB motor itu masih di rumah sakit. Bahkan kabarnya pagi kemarin sempat ada perwakilan rumah sakit mendatangi rumah Toefan dan menanyakan kepastian pembayaran tagihan Rp5 juta tersebut.

Sementara itu, pihak rumah sakit yang dihubungi koran ini melalui bagian humas menyatakan belum bisa memberikan pernyataan lebih detail karena belum menerima informasi dari bagian pelayanan. “Saya sekarang masih di Bandung sedang menjalani terapi tulang. Besok (hari ini, red) saya tenyakan kepada bagian pelayanan terkait hal tersebut,” ucap humas rumah sakit melalui sambungan telepon seluler. (ade-mg)