Bus Trans Cirebon Sudah Tiba, Bagaimana Selanjutnya?

oleh -199 views
Lima Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Lima Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON–Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon sudah tiba di Kota Cirebon. Namun lima armada berkapasitas 30 penumpang itu belum dapat dioperasikan. Ada beberapa hal yang perlu dibahas. Soal rute, tarif, jam operasi hingga halte.

Spesifikasi BRT ini memang beda dengan bus sejenis. Ia punya pintu otomatis di bagian dengan. Masalahnya, halte di Kota Cirebon tak bisa menunjang pengoperasian pintu macam ini. Karena ketinggianya tidak mencukupi. Juga akses naik turunnya yang perlu dibenahi.

Halte mana saja yang akan digunakan, juga belum ada gambaran. Dinas Perhubungan bakal membahas soal ini. Termasuk rutenya. Meski salah satu yang hampir pasti ialah pemberian prioritas untuk wilayah selatan, khususnya Kelurahan Argasunya. Dengan kuota dua bus. Tiga bus lainnya, dialokasikan untuk rute lain.

Hingga saat ini, armada tersebut juga belum menuntaskan aspek administrasi. Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Cirebon Dikri Hopiana S Sos MSi mengatakan, surat tanda nomor kendaraan (STNK) dalam proses permohonan. Sesuai dengan ketentuan, bagi setiap angkutan umum yang beroperasional haruslah berbadan hukum. “Dokumennya belum keluar dari provinsi, jadi kami pun menungu dokumen tersebut dan proses perizinan,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Sebelumnya, BRT yang direncakanan diberikan ke Cirebon berjumlah 10, namun yang terealisasi hanya lima buah. Ini membuat perencanaan seperti rute harus disusun ulang. Pihaknya pun sedang dalam proses pembahasan ulang untuk rute yang ditetapkan pada lima armada tersebut.

Pertimbangan memberi prioritas kepada Kelurahan Argasunya, juga bagian dari meminimalisasi gesekan dengan angkutan kota. Meski nantinya BRT juga akan beroperasoi dengan rute dalam kota. “Jadi untuk tahap awal buat masyarakat Argasunya ke kota dan sebaliknya,” ucap dia.

Pihaknya pun segera melakukan pembahasan rute, melakukan survei untuk mengetahui titik mana saja yang bisa dijadikan halte. BRT ini memang tidak akan berhenti di sembarang tempat. Lantaran halte di Kota Cirebon yang memang bukan untuk BRT, rencananya pintu tengah tidak akan difungsikan. Hanya pintu depan yang digunakan untuk naik dan turun penumpang.

Ke depan, diharapkan BRT bisa menjadi moda transportasi masal yang mengurangi beban kepadatan kendaraan di Kota Cirebon. Masyarakat Kota Cirebon diharapkan mulai beralih kepada transportasi masal ini, karena fasilitasnya disediakan untuk kenyamanan, keamanan dan ketepatan waktu.  Untuk penetapan tarif sendiri, dishub belum membahas. Tarif baru bisa ditetapkan saat rute sudah ada. “Kalau rute sudah ada lalu dibagi jarak, baru bisa menetapkan tarif,” tukasnya.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota/Kabupaten Cirebon Karsono juga mengharapkan BRT menjadi solusi tranportasi Kota Cirebon, dan terintegrasi dengan angkutan lain sebagai feeder (pengumpan). Dengan konsep ini, tidak akan terjadi tumpang tindih. Apalagi sampai berkonflik. “Kami akan coba usulkan beberapa opsi. Tapi sebelum itu, mari kita samakan persepsi dulu. Transportasi masal itu, seperti apa sih,” ujar Karsono belum lama ini.

Lama berkecimpung di bisnis transportasi, Karsono mengaku, angkutan eksisting khususnya angkot belum dapat melayani masyarakat dengan maksimal. Terutama dalam menyajikan angkutan yang efisien, lagi nyaman.

Nah kehadiran BRT yang diharapkan dapat memberikan kenyamanan itu. Tapi dengan catatan, agar tidak mematikan moda transportasi yang sudah ada. Organda sudah ada beberapa gambaran. Apas aja opsi-opsi yang akan ditawarkan. Tetapi ini masih akan dibahas dengan pengusaha angkutan, juga para sopir. “Kita coba cari win-win solution-nya itu bagaimana,” terangnya.

Salah satu konsep yang ditawarkan adalah BRT dikelola oleh badan usaha milik daerah (BUMD) yang dibentuk pemda. Sehingga mempunyai badan hukum yang jelas. Kepemilikannya bukan saja dari dinas, tapi juga dari pengusaha angkutan dan para sopir. Jadi pengusaha angkutan yang sekarang ini kepayahan terkait minimnya pendapatan, dapat ikut serta sebagai investor. Angkutannya dijual hasilnya dikoletifkan dan dimasukkan sebagai investasi di BUMD.

Yang kedua, pihaknya akan meningkatkan kapasitas dari para sopir angkot tersebut. Dia akan meminta walikota untuk membantu membiayai peningkatan SIM para sopir dari A ke B1 umum, guna mengakomodir sopir angkot menjadi sopir BRT. Diusulkan pula sopir BRT nantinya menggunakan sistem penggajian, bukan setoran. Sehingga tidak ada lagi sopir ugal-ugalan yang beralasan mengejar setoran.

Ketiga, mengenai trayek, Karsono mengusulkan BRT tidak akan memakan trayek angkot yang sudah ada. Bahkan angkot akan dijadikan angkutan feeder. Jadi masyarakat yang berada di perumahan akan naik angkot dulu menuju halte khusus BRT atau setelah naik BRT kemudian naik angkot feeder ke perumahannya. “BRT ini tidak akan menjadi saingan, tapi penunjang angkutan umum lainnya,” ungkapnya.

Terakhir, dia mengusulkan juga kepada pemda untuk menghadirkan 100 unit angkot yang ber-AC. Angkot baru ini untuk feeder dan pengganti angkot reguler yang kondisinya sekarang sebagian besar sudah tidak bagus dan nyaman bagi masyarakat.

Tujuannya, ketika masyarakat nyaman dan mencintai angkutan umum, mereka akan meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah. Sehingga masalah kemacetan, kesemrawutan dan polusi bisa dikurangi secara signifikan. “Kami minta dukungan semua pihak dengan rencana baik ini, Kota Cirebon sudah menjadi kota besar, dibutuhkan transportasi masal yang aman nyaman, murah dan menjangkau semua wilayah,” tandasnya. (apr)