Sebenarnya Bikin Trotoar untuk Siapa?

oleh -7 views
Trotoar di Jl Ciremai Raya digunakan tidak sesuai fungsinya. FOTO:NOVRILA MAYANG P/RADAR CIREBON
Trotoar di Jl Ciremai Raya digunakan tidak sesuai fungsinya. FOTO:NOVRILA MAYANG P/RADAR CIREBON

CIREBON–Penataan Jl Ciremai Raya mendesak dilakukan. Kondisinya kelewat semerawut. Tak hanya pedagang kaki lima (PKL). Para pemilik usaha juga pertokoan, menggunakan trotoar tidak sesuai fungsinya.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Drs Andi Armawan menekankan, Jl Ciremai Raya memang bukan kawasan tertib lalu lintas (KTL). Tapi bukan berarti ada pembiaran penyalahgunaan trotoar. “Ada kepentingan masyarakat yang terganggu karena trotoar jalan alih fungsi,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Diakui, Jl Ciremai Raya mendesak untuk dilakukan penataan. Pihaknya juga sudah melakukan rapat bersama dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) lain. Termasuk camat serta lurah setempat. Keberadaan PKL di Jalan Ciremai Raya bukan hal baru. Lokasi yang strategis membuat kawasan ini diminati pedagang. Dari pendataan yang dilakukan Radar Cirebon, setidaknya terdapat 77 PKL di siang hari. Jumlahnya melonjak sampai ratusan di malam hari.

Dari Lampu Merah Jl Ciremai Raya hingga persimpangan Jl Kalijaga nyaris tidak ditemukan trotoar yang bebas pedagang. Selain PKL, toko-toko juga menggunakan trotoar untuk menempatkan barang dagangan maupun papan promosi. Masalah lainnya ialah parkir badan jalan. Trotoar di kawasan ini benar-benar tidak ramah pejalan kaki. Nyaris tidak ada ruang untuk dilewati.

Warga setempat, Agung (37) mengeluhkan kondisi ini. Tiap lewat, harus turun ke badan jalan karena trotoar tertutup papan promosi toko. “Kalau di sini paling lewatnya di jalan. Jarang lewat di trotoar jalan. Susah juga. Jadi bikin trotoar ini untuk siapa?” ujar Agung.

Kondisi ini bukan tidak disadari pemerintah. Di depan Pasar Perumnas misalnya. Terpampang spanduk peringatan untuk tidak berjualan di depan pasar. Namun, imbauan semacam itu jelas tidak mempan.

Warga lainnya, Pramudya juga menyayangkan kurangnya kesadaran PKL maupun para pemilik toko. Tindakan mereka telah membuat trotoar jadi tidak ramah pejalan kaki. “Kebayang kalau yang lewat itu teman-teman disabilitas. Bagaimana jadinya,” katanya.

Penggunaan trotoar untuk berjualan juga dikhawatirkan dapat merusak fasilitas tersebut. Pramudya mengaku, mengaku sering mendapati trotoar yang licin karena tumpahan minyak. (myg)