Lima Bulan Parkir, Bagaimana Nasib Bus Trans Cirebon?

oleh -4 views
Lima Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Lima Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Hampir dua bulan lima unit Bus Rapid Transit (BRT) atau trans Cirebon bantuan dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) masih terparkir di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub). Belum jelas kapan bus berwarna biru ini mengaspal.

Rupanya ada beberapa persoalan administrasi yang merintangi operasional armada angkutan masal tersebut. Kepala Dishub Kota Cirebon Atang Hasan Dahlan mengungkapkan, jumlah BRT yang diterima tidak sesuai dengan data surat serah terima. “Harusnya 10 unit sesuai data dari surat serah terima. Kenyataannya kan cuma lima,” ujar Atang kepada Radar Cirebon di Balaikota.

Dari informasi yang beredar, rupanya lima unit itu dialihkan pemberiannya ke Kabupaten Cirebon dan Indramayu. Meski tidak ada rincian. Soal informasi ini, Atang tak mengiyakan maupun menampik. Tapi menurutnya, jumlah 10 unit tidak boleh dikurangi. Tidak boleh dibagikan ke daerah lain.

Dengan kenyataannya hanya lima unit BRT yang diterima, pihaknya belum bisa mengurus prosedur operasionalnya. Seperti plat nomer, izin trayek dan pembahasan lainnya. Padahal anggaran pengoperasian BRT ini sudah ada Rp1 miliar. Setelah walikota menandatangani Berita Acara Serah Terima Operasional (BASTO) dari kemenhub, dana itu bisa untuk operasional BRT. Tapi BASTO ini juga tak bis diurus. Lantaran jumlahnya yang memang masih kurang.

Atang juga belum bisa masang target BRT akan beroperasi. Semuanya baru akan jelas setelah jumlah dan peruntukan anggarannya sesuai. Ia pun tak mau ambil risiko dengan menandatangani serah terima 10 unit bus. Padahal kenyataannya cuma lima yang diterima. “Kalau nanti ada pemeriksaan dan sidak. Malah kita yang kena nanti,” tandasnya.

Untuk trayek, dishub sudah membuat nota dinas, tinggal disetujui oleh walikota. Sedikit bocoran yang didapat koran ini, trayek akan menyasar ke wilayah selatan Kota Cirebon. Sekitar Argasunya, karena angkutan umum disana kurang dan tidak memadai. Sedangkan mobilitas warga di sana sudah tinggi. Halte khusus juga akan dibuat menyesuaikan dengan kondisi BRT.

Sementara untuk tarif, Atang menyebutkan, tidak akan menjadi masalah. Sama atau lebih murah dari angkot pun tidak apa-apa. Atau bahkan digratiskan beberapa bulan poin tidak masalah. Pasalnya sudah ada anggaran pengoperasiannya. Ada wacana untuk membayar dengan sampah yang bisa didaur ulang, itupun sudah dimasukkannya ke dalam nota dinas tersebut.

Atang pun menjamin, rute BRT tidak bersinggungan dengan angkot yang telah ada. Kalaupun bersinggungan hanya D9. Sedangkan untuk pengelolaan, bila diserahkan ke BUMD PD Pembangunan, dari pemeliharaan dan pengoperasiannya diserahkan semuanya. Pihaknya akan memperhitungkan anggaran yang sudah dipakai, sisanya diserahkan ke pengelola yang ditunjuk.

KE MANA LIMA BRT MILIK KOTA CIREBON?

Pendistribusian lima BRT untuk Kota Cirebon mengundang pertanyaan. Sebab, dalam serah terima yang dilakukan di Gedung Sate, dishub hanya mendapat lima unit. Dari seharusnya 10 unit.

Saat serah terima itu, ada 50 BRT yang diberikan kepada pemerintah kabupaten/kota terpilih. Juga ada 17 bus sekolah yang dibagikan kepada yayasan, sekolah, juga universitas. Namun, dalam rinciannya hampir setiap daerah mendapat lima unit BRT. Apakah dibagi rata? (gus)