BRT ke Argasunya, Forum Lalu Lintas Minta Pemkot Perhatikan Sarana dan Prasarananya

oleh -4 views
Lima Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Lima Bus Rapid Transit (BRT) Trans Cirebon terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Rencana rute Bus Rapid Transit (BRT) menyasar ke Kelurahan Argasunya dan sekitarnya, dimaksudkan untuk memberikan kemudahan mobilitas warga di sana. Pasalnya angkutan umum yang beroperasi jumlahnya sedikit dan kondisinya memprihatinkan.

Pengurus Forum Lalulintas Kota Cirebon Prof Dr Adang Jumhur setuju dengan rencana rute BRT tersebut. Ini menunjukkan kehadiran dan keberpihakan pemerintah kepada warganya yang belum menikmati angkutan umum yang layak.

Namun demikian, Adang memberikan catatan, untuk memperhatikan permasalahan sarana dan prasarana disekitar Argasunya. Karena BRT adalah bus angkutan khusus yang berukuran cukup besar, perlu adanya berbagai penyesuaian.

“Kita lihat kondisi jalan disana, memang sebagian besar sudah betonisasi. Jalan beton itu mampu menopang berat bus maupun truk yang lewat diatasnya. Namun saya menilai lebar jalan dirasa kurang,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Alih-alih membuat jalur khusus BRT, kata Adang, untuk lewat truk sampah berpapasan saja harus pelan dan hati-hati. Lebar jalan kurang memadai, tidak ada trotoar disisi kanan kiri jalan. Belum lagi kalau ada kendaraan parkir, mobil harus bergantian untuk lewat.

BRT juga memerlukan halte khusus yang ada tangganya untuk keluar masuk penumpang. Selanjutnya, sepanjang jalan belum terlihat adanya marka, rambu maupun petunjuk arah yang jelas. Apalagi wilayah Argasunya sekarang sudah ramai, banyak perumahan dibangun dan aktivitas warganya juga tinggi. “Ya kalau tahapan uji coba sih boleh saja, tapi untuk jangka panjang harus diperhatikan sarana dan prasarana pendukung lainnya,” ungkapnya.

Adang juga menyebutkan sisi positif pengoperasian BRT, terhadap pengusaha angkutan umum yang sudah ada dirute yang dilaluinya. Dengan melihat BRT yang bagus, pengusaha itu akan berfikir untuk meremajakan angkotnya. Dengan demikian masyarakat lah yang diuntungkan.

Senada dengan Adang, Anggota DPRD Kota Cirebon M Noupel SH MH menambahkan, pengoperasian moda transportasi BRT harus memperhatikan kondisi jalan yang dilaluinya. Jangan niat baik pemerintah ini akan menjadi masalah dikemudian hari.

Nopel mengingatkan, untuk memberdayakan sopir angkot yang ada disana, jangan dijadikan saingan jadikanlah mitra. Sosialisasi kepada masyarakat juga penting, jangan nanti BRT dikiranya bus pariwisata yang ingin mengunjungi Argasunya.

“Bagus, rute ke Argasunya sejalan dengan program pemkot yang ingin mengembangkan daerah itu. Tapi pemkot juga harus memikirkan dan menyiapkan kelengkapan pendukung BRT itu,” pungkasnya. (gus)