Cibulan Kembali Tanam Kedelai di Eks Galian Pasir

oleh -50 views
TANAM KEDELAI: Bupati H Acep Purnama dan Kades Cibulan bersama kemenhut dan muspika, foto bersama usai penanaman kedua kedelai di eks galian pasir desa setempat, kemarin. FOTO: MUMUH MUHYIDDIN/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN-Untuk kali kedua, Pemdes Cibulan Kecamatan Cidahu bersama kelompok tani memanfaatkan puluhan hektare lahan eks galian pasir untuk ditanami kedelai. Di lahan seluas 100 hektare, mereka menanam kedelai berpola monokultur, Kamis (21/2).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Enda Ginting selaku Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden, perwakilan Kementerian Pertanian RI,  Kabid Pangan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, Kabid Bangyansos Setda Provinsi Jabar, Bupati H Acep Purnama, Kepala DPMD Deniawan, Camat Cidahu Rusmiadi, serta sejumlah unsur undangan lainnya.

Menurut Kepala Desa Cibulan Iwan Gunawan, tahun 2019 merupakan tahun kedua Pemerintah Desa Cibulan dan petani kedelai di desanya menanam kedelai dengan memanfaatkan bekas lahan galian pasir.

Di tahun ini ia menargetkan penanaman kedelai di lahan seluas 200 hektar. Itu dalam rangka memberdayakan masyarakat guna memanfaatkan lahan yang ada.

“Tahun 2019 target kedelai yang akan ditanami seluas 200 hektare dengan pola monokultur 100 hektare dan 100 hektarnya lagi pola tumpangsari jagung kedelai dan kedelai padi,” kata Iwan.

Selain memberdayakan masyarakat Cibulan khususnya, ia juga berharap kegiatan inovasi tersebut dilakukan dalam rangka membantu pemerintah tentang swasembada pangan.

“Harapan kami dengan menanam kedelai ini bisa membantu program pemerintah dalam rangka swasembada pangan khususnya di komoditas kedelai,” harapnya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati H Acep Purnama berterima kasih kepada Enda Ginting selaku Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden dan jajaran yang telah memberikan perhatian kepada Desa Cibulan.

Ia pun mengucapkan syukur karena Desa Cibulan mendapatkan penghargaan sebagai kelompok tani terbaik nasional.

“Yang menciptakan (ide pemanfaatan eks galian pasir, red)  ini adalah di desa. Ini serius, karena Cibulan memiliki potensi yang luar biasa, ada bekas galian pasir yang disulap jadi lahan produktif. Kalau kita mau ya bisa,” kata Acep.

Kedelai ini, lanjut Acep, merupakan komoditas kacang-kacangan yang dibutuhkan, terutama untuk tahu dan tempe. Ia mengaku sudah terbiasa makan tahu dan tempe di rumah hampir setiap hari. Jika di rumahnya tidak ada menu tahu tempe, menurutnya makan pun serasa kurang pas.

Dikatakan bupati, rata-rata bangsa Indonesia menyukai makanan jenis tahu dan tempe, termasuk juga warga Cibulan, karena dengan makan tahu dan tempe menu makan menyehatkan.

“Dengan tempe ini bisa hebat. Ini kepedulian juga dari Pak Kuwunya (Iwan, red). Kita ubah produk tahu tempe bahan bakunya dari Cibulan. Insya Allah ini akan jadi percontohan bagi desa lain,” harapnya.

Sebagai bupati, Acep mempunyai visi Maju Berbasis Desa. Pinunjul sebagai bagian makna dari maju itu, yakni di Desa Cibulan kini ada traktor bantuan pusat, ada lahan yang digarap dan ini bisa dimanfaatkan.

“Kalau kedelai mudah ditanam, dicabut jadi lagi. Ini akan memberikan nilai jual dan nilai tambah, sehingga bermanfaat bagi kemandirian masyarakat, khususnya masyarakat Cibulan. Pemanfaatan tanah itu penting, jangan sampai ada tanah yg nganggur,” saran Acep.

Dalam kesempatan itu usai sambutan, bupati bersama pihak terkait terjun langsung menanam kedelai menggunakan alat canggih yang didorong, sehingga penanaman berlangsung cepat dan tertib. (muh)