Jurus Penthahelix Tangani Citarum

oleh -34 views
TERSTRUKTUR: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil tengah menyampaikan skema penthahelix dalam menangani revitalisasi Sungai Citarum di hadapan peserta seminar nasional dengan tema Model Sinergitas Penthahelix-Merawat Alam dan Mitigasi Bencana di Hotel Grand Asrilia, Bandung, kemarin (22/2). FOTO: BIRO HUMAS DAN PROTOKOL SETDA PEMPROV JABAR

BANDUNG–Kolaborasi antara government (pemerintah), academician (akademisi), business (dunia usaha), community (komunitas) dan media, diharapkan mampu membangun Sungai Citarum kembali harum, bersih, sehat dan lestari.

Itulah harapan Gubernur Jawa Barat,  Ridwan Kamil yang diungkapkan  dalam seminar nasional dengan tema Model Sinergitas Penthahelix-Merawat Alam dan Mitigasi Bencana di Hotel Grand Asrilia, Bandung, kemarin (22/2).

“Selama ini, jangan menyangka bahwa urusan hidup kita ini hanya urusan pemerintah. Maka, pentahelix ini terbagi lima peran. Dda peran pemerintah, pebisnis, universitas, peran kominitas dan peran media,” ungkapnya.

Menurut Ridwan Kamil yang menjadi panelis dalam seminar tersebut, bahwa, dengan kolaborasi kelima unsur dalam teori penthahelix, segala persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat bisa dikurangi. Terlebih dalam upaya membangun Citarum.

“Hari ini kami menyelenggarakan sebuah gagasan besar, persoalan bencana, lingkungan, pembangunan dan lain-lain bisa dikurangi risikonya melalui kolaborasi penthahelix,” tuturnya.

Apabila kolaborasi ini tetap dijaga dan masing-masing saling mendukung, dalam waktu lima sampai tujuh tahun ke depan, normalisasi Citarum akan berhasil.

“Yang penting, masing-masing pihak komitmen akan peranannya yang sudah tertuang dalam buku pedoman. Nanti, setiap akhir tahun akan ada evaluasi sehingga setiap target harus ada progres 15 sampai dengan 20 persen setiap tahunnya,”  papar Emil, sapaan akrab gubernur.

Sementara, Dr Eki Baihaki, Ketua Citarum Institute merasa bersyukur, sejak awal tahun 2018, program Citarum Harum telah mendapat payung hukum dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018.

Kehadiran payung hukum ini menghadirkan optimisme dan harapan baru dalam pemulihan Sungai Citarum yang dijuluki sebagai sungai terkotor di dunia sejak tahun 2013 oleh Black Smith Institute, organisasi nirlama berbasis di New York, Amerika Serikat.

“Berkat Perpres ini, menghadirkan partisipasi publik yang signifikan dalam menjawab problematik masalah Citarum yang demikian terstruktur sistimatis dan masif,” katanya.

Penggunaan model penthahelix dalam penanganan Citarum, juga diharapkan dapat meningkatkan rasa kebersamaan segenap elemen bangsa.

“Dalam praktiknya, hal ini merupakan smart power sebagai perwujudan aksi bela negara yang berbasis budaya dan kearifan lokal melalui penerapan skill, strategi, sistem dan struktur dalam mencapai target, yakni kemakmuran rakyat,” harapnya.

Perlu diketahui, seminar ini digelar bersama oleh BNPB, Kodam III Siliwangi, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat, dan Citarum Institute.

Tiga pembicara utama yang hadir antara lain, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Deputi 4 Kemenko Maritim Dr Ir Safri Burhanuddin, DEA  dan Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil ST MUD.

Kemudian, dalam seminar juga dihadirkan event Bedah Buku “Kembalikan Citarum Harum” yang merupakan buku setebal 380 halaman hasil telisik dua orang  Joko Irianto Hamid dan Esa Tjatur Setiawan. (jun)