Tak Punya WC, Kalau Kebelet BAB, Lari ke Laut

oleh -149 views
ILUSTRASI-BAB-SEMBARANGAN
ILUSTRASI-BAB SEMBARANGAN

TIGA tahun terakhir, Karmini (43) harus bergelut dengan susahnya melaksanakan panggilan alam. Di rumahnya, kamar mandi sudah tersedia. Namun tanpa wc dan salurannya yang hanya digunakannya untuk buang air kecil dan aktivitas cuci-mencuci.

Makanya, kalau ingin membuang air besar, ia dan keluarga harus beranjak ke rumah orang tua yang berjarak beberapa rumah warga dari tempat tinggalnya. Tapai kalau sudah mepet dan tengah malam ingin juga buang hajat, terpaksa harus meluncur ke laut.

Kebetulan rumahnya dekat dengan bibir pantai Samadikun, Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan. “Kalau sudah ke bangun malam-malam, jam dua, jam tiga itu, ya langsung aja ke sana (laut),” ungkap Karmini yang ditemui Radar Cirebon.

Masalahnya, buang hajat di laut ya harus kucing-kucingan dari warga. Ditanya takut atau tidak, Karmini dengan tegas bicara tidak. Sudah terbiasa, katanya. Ibu lima orang anak ini, hampir tiga tahun menempati rumah yang dibangun dengan bantuan rumah tidak layak huni (rutilahu).

Dana itu hanya ditujukan untuk pendirian bangunan. Alias tidak termasuk MCK. Dua anaknya sudah berumah tangga dan menetap sendiri masing-masing. Di rumah tersebut tinggal ia, suami serta tiga orang anaknya. Yang seluruhnya belum pernah mencicipi fasilitas MCK. Ketika ditanya alasannya, ia mengaku tak punya biaya membangun MCK. “Nggak punya uangnya,” ucap dia.

Rupanya Karmini tidak sendiri. Masih ada dua warga lain yang juga belum memiliki sanitasi dan MCK yang memadai. Hingga pada akhirnya, juga harus buang hajat ke laut. Itu pun harus kucing-kucingan dengan warga lainnya.

Ketua RW 10 Samadikun Selatan, Lukman Santoso mengungkapkan, sanitasi masih menjadi masalah di lingkungannya. Ia pun menyadari, masalah ini kalau didiamkan juga berbahaya. Terutama untuk kesehatan lingkungan dan warganya sendiri.

Sebelumnya di kawasana tersebut terdapat 7 rumah warga yang belum dilengkapi dengan MCK. Namun tiga diantaranya sudah dapat bantuan dari Rumah Zakat. Tapi warga harus membayarnya dengan mengangsur dengan program bank sampah. “Dari tujuh itu tiga dapat bantuan, satu sudah bangun sendiri. Tinggal 3 rumah yang masih belum ada MCK,” terangnya. (myg)