Banyak Kelurahan di Kota Cirebon Sudah Deklarasi ODF

oleh -9 views
Kepala Dinkes Eddy Sugiarto (kanan) menyaksikan penandatangan deklarasi RW 05 Kebon Benteng Timur sebagai ODF. FOTO:DOK.NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON
Kepala Dinkes Eddy Sugiarto (kanan) menyaksikan penandatangan deklarasi RW 05 Kebon Benteng Timur sebagai ODF. FOTO:DOK.NOVRILA MAYANG/RADAR CIREBON

CIREBON-Dinas Kesehatan menaruh perhatian lebih untuk persoalan sanitasi. Meski diklaim pula, sudah banyak kelurahan yang mendekalarasikan diri bebas buang air besar sembarangan (BABS) atau open defecation free (ODF).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Cirebon dr Edy Sugiarto MKes mengatakan, masalah sanitasi adalah salah satu concern dari dinas kesehatan. Setidaknya ada lebih dari 18 kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi angka masyarakat BAB sembarangan. Kegiatan tersebut meliputi penyuluhan secara berjenjang di rumah-rumah, sekolah, dan puskesmas. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk berubah dan memahami bahwa sanitasi sangat penting.

Selain itu ada program yang disebut ABG atau advokasi bina sarana dan gerakan masyarakat melalui petugas kesehatan keliling dari puskesmas. Ada juga pendampingan kepada masyarakat bagaimana membuat jamban sehat sampai bagaimana pembuanganya.

Tidak hanya itu, pemerintah melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) juga telah melakukan upaya dengan membuat sanitasi komunal atau sanitasi masyarakat (sanimas). Melalui program ini, masyarakat bisa melakukan aktivitas mandi cuci kakus (MCK) yang dikelola secara mandiri. “Sebenarnya dengan sanimas itu sudah cocok dengan kondisi Kota Cirebon yang padat dan lahanya sempit,” ujar Edy kepada Radar Cirebon.

Seperti diketahui, dalam RPJMD 2018-2023, masih ada 4.792 warga yang BAB sembarangan. Kemudian, 20.234 warga yang fasilitas mandi cuci kakus (MCK)-nya tidak aman. Atau bahkan belum memiliki sama sekali. Masih dikutip dari data yang sama, masalah sanitasi ini paling parah terjadi di Kecamatan Harjamukti dan Kecamatan Lemahwungkuk. Urutan ketiga adalah Kecamatan Pekalipan.

Namun, tiga kecamatan itu punya masalah berbeda. Di Kecamatan Lemahwungkuk dan Harjamukti, sanitasi tidak aman disebabkan rendahnya kemampuan ekonomi warga. Sementara di Kecamatan Pekalipan penyebabnya adalah lingkungan yang padat penduduk. Jarak antar rumah/bangunan berdekatan, sehingga menyulitkan masyarakat dalam mengatur jarak antara bidang resap buangan efluen dari tangki septik dengan sumur gali sesuai standar teknis.

Program sanimas di tahun 2017 Kota Cirebon merupakan satu diantara empat daerah kabupaten/kota di Jawa Barat yang menjadi sasaran kegiatan sanimas Islamic development bank. Program ini mulai bergulir sejak 2015 dan dilaksanakan di 15 titik. Satu bangunan setidaknya dapat menampung 70 sambungan rumah. Dengan anggaran masing-masing mencapai Rp425 juta.  (awr)