Januari-Maret, Kuningan Terjangkit 225 Kasus DBD

oleh -78 views
DBD-PIXABAY
Ilustrasi. Foto: Pixabay.com

KUNINGAN – Jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kuningan sejak Januari hingga akhir Maret 2019 mencapai 225 kasus lebih.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Kuningan Raji K Sarji melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Iud Sudarman mengatakan, lonjakan kasus DBD terjadi pada Maret lalu hingga dua kali lipat lebih. Yakni, pada Februari tercatat hanya ada 101 kasus melonjak tajam menjadi 225 kasus pada Maret.

“Berdasarkan laporan seluruh rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kabupaten Kuningan, hingga bulan Maret lalu jumlah kasus DBD sudah mencapai 225 kasus. Kami belum mendapat laporan terbaru selama bulan April ini, sehingga kemungkinan besar jumlahnya bertambah lagi,” ungkap Iud kepada Radar, kemarin.

Jumlah kasus DBD yang terbilang tinggi tersebut, kata Iud, hampir terjadi di seluruh kecamatan di Kabupaten Kuningan. Daerah yang terbilang paling tinggi kasus DBD, lanjutnya, di antaranya Kecamatan Kuningan, Cigugur dan Cilimus.

“Meski jumlahnya sudah mencapai 225 kasus lebih, namun kami belum mendapat laporan keberadaan pasien DBD yang meninggal dunia sehingga kondisi ini belum masuk kategori kejadian luar biasa (KLB). Namun demikian, masyarakat diimbau untuk waspada danĀ  meningkatkan upaya pencegahan agar jangan sampai terjadi wabah DBD. Caranya dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) serta melaksanakan Pembasmian Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3MPlus yaitu menguras, menutup dan mendaur ulang plus pencegahan seperti abatesasi, memakain lotion anti nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk atau ikan pemangsa jentik nyamuk,” papar Iud.

Iud melanjutkan, Dinas Kesehatan pun telah berupaya maksimal dalam mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegypti tersebut. Mulai dari sosialisasi petugas kesehatan ke masyarakat dan menginstruksikan aparat desa hingga melakukan pengasapan alias fogging terhadap daerah yang positif terdapat kasus DBD.

“Hampir setiap hari kami melakukan penyemprotan atau fogging terhadap daerah positif DBD. Sudah 46 lokasi yang kami fogging, dan ke depan masih akan dilakukan penyemprotan untuk daerah lainnya,” ujar Iud.

Diakui Iud, banyak pemerintahan desa dan kelurahan yang mengajukan untuk kegiatan fogging di wilayahnya. Namun karena keterbatasan personel dan alat, kegiatan fogging pun tidak bisa dilakukan sekaligus, sehingga dia meminta masyarakat untuk bersabar.

Namun kembali Iud menegaskan, kegiatan fogging hanya bersifat membunuh nyamuk dewasa sedangkan jentik nyamuk tetap hidup di dalam air. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mengatasi persoalan DBD ini dengan menjaga lingkungannya dan melaksanakan PSN 3M Plus tadi. (fik)