Perajin Gerabah Asal Desa Sitiwinangun, Kini Produknya Sampai Amerika Serikat

oleh -209 views
MASIH LIHAI: Kakek Miskadna mengukir gerabah di kediamannya, Desa Sitiwinangun, Blok Bagusan, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
MASIH LIHAI: Kakek Miskadna mengukir gerabah di kediamannya, Desa Sitiwinangun, Blok Bagusan, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

Usia tidak muda, bukan menjadi alasan untuk berhenti beraktivitas. Lihat saja Miskadna, perajin gerabah asal Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon.

Meski usianya sudah menginjak 74 tahun, namun lentik jarinya, masih lihai memoles ukiran tanah liat sebagai motif produk yang dibuatnya.

KAKEK lima anak ini, menekuni usaha gerabah sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Produknya bermacam-macam. Bahkan, sudah dipasarkan hingga ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Seperti gerabah jenis gentong, pendil, celengan, patung dan berbagai jenis lainnya.

Musim hujan, cuaca yang dikeluhkannya. Karena, kerajinan tangan berbahan dasar tanah liat itu, mengandalkan matahari sebagai proses penjemuran.

Pembakarannya pun, bergantung pada cuaca. Jika hujan terus mengguyur, semakin menyulitkan dan menambah molornya waktu pengerjaan.

Usia senja menyulitkannya dalam mengambil bahan dasar seperti tanah liat yang biasa dicari di sawah dan pasir yang diambil di sungai setempat. Untuk itu, Miskadna harus menyewa jasa dan membayarnya.

Salah satu produknya yang sedang digarap kemarin siang, berbentuk gentong atau tempat penampung air. Menyelesaikannya, membutuhkan waktu empat hari lamanya.

“Macam-macam motifnya. Kalau buat nampung air namanya gentong. Kalau tempat beras namanya pedaringan. Sementara yang berjenis pedasan untuk air wudhu.

Empat hari baru bikinnya saja, belum termasuk proses pembakaran,” terangnya, sambil terus mengukir motif di gentong yang sedang digarapnya, (12/4).

Harganya? Bemacam-macam. Tergantung motif, jenis dan ukuran. Mulai dari ratusan ribu, hingga jutaan rupiah. Usahanya itu, juga diteruskan ke keponakannya. Dengan tekun, dia mempraktikan dan mengajarkan agar bisnis gerabah tidak punah tergerus zaman.

Terpisah, Kepala Desa Sitiwinangun Ratija Brata Menggala mengatakan, sejak dicanangkan sebagai desa wisata gerabah di tahun 2016, jumlah perajin gerabah di Desa Sitiwinangun semakin meningkat.

Jika semula ada 35 perajin, saat ini mengalami peningkatan hingga mencapai 70 sampai 80 perajin.

“Harapan kami, pemerintah bisa membantu untuk mewujudkan Desa Sitiwinangun menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Cirebon. Kami mengharapkan bantuan, baik dari segi promosi atau infrastrukstur,” ungkapnya.

“Karena terus terang, jalan masuk belum ada petunjuk. Seperti gapura dan lain sebagainya. Kemudian jalan juga masih banyak yang rusak.

Yang tidak kalah pentingnya, kami mengharapkan pemerintah dengan segala fasilitas yang dimiliki, bisa membantu kami terkait promosi,” harapnya. (*)