Lagi, 2 Linmas TPS di Cirebon Wafat

oleh -20 views
Jamaah Masjid Agung Sumber menunaikan Salat Gaib dan memanjatkan doa untuk petugas pemilu yang meninggal dunia. ILMI YANFA’UNNAS/RADAR CIREBON
Jamaah Masjid Agung Sumber menunaikan Salat Gaib dan memanjatkan doa untuk petugas pemilu yang meninggal dunia. ILMI YANFA’UNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON-Korban meninggal akibat kelelahan setelah mengawal proses pemilu sejak 17 April lalu, bertambah lagi. Kali ini 2 anggota Linmas TPS di Kabupaten Cirebon. Korban pertama Mustari (77) yang saat pemungutan suara bertugas di TPS 15 Desa Pakusamben, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon, korban kedua Hikayat (62) warga Desa Blender, Kecamatan Karangwareng, Kabupaten Cirebon. Mustari meninggal Kamis (25/4) dan dimakamkan Jumat (26/4), sementara Hikayat meninggal dunia Jumat sore (26/4).

Johari menunjukkan identitas ayahnya, Mustari, yang meninggal setelah kondisi kesehatannya menurun usai menjaga TPS. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
Johari menunjukkan identitas ayahnya, Mustari, yang meninggal setelah kondisi kesehatannya menurun usai menjaga TPS. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

Menurut keterangan Johari, anak pertama almarhum Mustari, sang ayah sebelumnya bertugas di TPS 15 di RT 02 RW 12 sebagai anggota linmas. Bapaknya meskipun sudah sepuh, namun masih sehat dan aktif di setiap kegiatan masyarakat. “Tidak ada sakit serius. Bapak itu dulu kerja di pabrik gula sampai pensiun. Kalau ngeluh capeknya dari kemarin-kemarin, tapi mulai ngedropnya pas hari Kamis (25/4). Rencananya kita bawa ke Rumah Sakit Waled, tapi gak keburu. Keburu meninggal dulu,” ujarnya.

Menurut Johari, Kamis sore harinya bapaknya mengeluh sakit. Kebetulan saat itu ada pengobatan gratis, sang ayah pun diikutkan. Namun rupanya kondisinya menurun dengan cepat. Tak kurang dari setengah jam kemudian Mustrari sudah tak sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia. “Cepat sekali. Usai periksa, lalu menurun dengan cepat kondisi kesehatannya. Sebelumnya ngeluh pegel-pegel dan lemas, tapi keluarga saat itu mengira tidak sampai begini,” cerita Johari.

Menurutnya, sang ayah diduga meninggal dunia karena kelelahan. Pasalnya pekerjaan sebagai linmas tersebut dinilai terlalu berat untuk seumuran korban. “Hampir dua hari bapak kurang istirahat. Malam hari sebelum coblos itu melekan, hari pencoblosannya proses penghitungan hampir seharian penuh sampai jam 6 pagi. Kerjanya terlalu berat untuk orang seumuran bapak. Jadi dugaan ya karena kelelahan,” jelasnya.

Johari menyebut ayahnya tidak mempunyai riwayat sakit berat atau sakit kronis. Ditambahkan Johari, untuk orang seumuran korban, fisiknya masih dikatakan bagus dan tidak pernah sakit-sakitan. Selain sebagai petugas TPS, Mustari juga sehari-sehari merupakan ketua RT d itempat tinggalnya. “Ini kayaknya karena kelelahan. Kita sudah laporkan ke pihak PPS dan PPK. Informasinya juga sudah disampaikan ke KPU,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *