Mega Proyek Menopang Investasi Cirebon Timur

oleh -261 views
RTRW-CIREBON-POWER
PEMANFAATAN LAHAN: Tampak udara kawasan pesisir Desa Bandengan, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, dengan latar belakang PLTU Cirebon Unit 1. FOTO: YUDA SANJAYA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sebelum tahun 2007, kawasan timur Kabupaten Cirebon didominasi lahan tidur, tambak dan areal pertanian. Perlahan tapi pasti, satu per satu industri berdiri. Kehadiran Tol Trans Jawa menjadi salah satu faktor pemicu perubahan wajah Wilayah Timur Cirebon (WTC).

Keberadaan 18 kecamatan dan sekitar 190 desa, membuat potensi wilayah timur Cirebon tidak lagi bisa dipandang sebelah mata.  Pertumbuhan industri Cirebon timur bergeliat mulai tahun 2009. Khususnya di kawasan yang dilintasi jalur utama pantai utara seperti Pangenan, Astanajapura, Mundu, hingga Losari.

Investasi mulai mengalir sejak 2007, dengan kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Unit I dengan kapasitas 660 mega watt (MW). Diikuti PT Samudera Luas Pramacita yang merupakan industri karet dan barang dari karet, dengan nilai investasi Rp1 miliar.

Berdasarkan Data Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cirebon, di tahun yang sama, di tiga kecamatan yakni, Astanajapura, Pangenan dan Mundu, investasi yang masuk mencapai Rp5,985 miliar dari 12 perusahaan yang berdiri. Angka itu meningkat di tahun 2010 menjadi Rp24,196 miliar dari 17 perusahaan yang masuk.

Capaian investasi melonjak drastis di tahun 2012 dari 11 perusahaan dengan nilai Rp186,590 miliar. Investasi terbesar dari PT Sindo Agung Agro Prima yang mendirikan industri pakan ternak di Kecamatan Pangenan, yang nilai investasinya Rp180 miliar.

Di tahun ini, dua proyek potensial digadang-gadang berkontribusi signifikan terhadap perkembangan ekonomi Cirebon. Salah duanya, Koneksi Pipa Gas Cirebon-Semarang. Proyek pipa gas tersebut ditangani oleh PT Rekayasa Industri (Rekind).

Rekind merupakan perusahaan EPC dari perusahaan PT Pupuk Indonesia. Meskipun proyek tersebut sempat terkendala selama beberapa tahun akibat pasokan gas yang belum tersedia, namun proyek ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2021. Distribusi gas tersebut nantinya diharapkan dapat menunjang daya saing bagi industri di Pulau Jawa.

Rekind ditetapkan sebagai pemenang lelang ruas transmisi Gas Bumi Cirebon-Semarang oleh BPH Migas sejak tahun 2006. Rekind merupakan transporter (pemiliki pipa gas) dan PLTU Tambaklorok merupakan pembeli gas (off taker). Selain itu Rekind juga menjalin kerjasama dengan Pertagas yang merupakan anak perusahaan PT Pertamina. Proyek pipa gas Cirebon-Semarang diharapkan bermanfaat bagi pasokan energi.

Sementara dari sektor ketenagalistrikan, PLTU Cirebon Unit II diharapkan dapat membantu terkait pasokan energi. PLTU Cirebon Unit II merupakan proyek yang terletak di Kabupaten Cirebon dan direncanakan akan selesai pada tahun 2022.

Meneruskan keberhasilan PLTU Cirebon Unit I, PLTU Cirebon Unit II tersebut diproyeksikan dapat menunjang sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali menggunakan transmisi 500 KV melalui koneksi gardu induk Mandirancan. Sebelumnya PLTU Cirebon Unit I menggunakan teknologi supercritical boiler, untuk PLTU Cirebon Unit II akan digunakan teknologi ultra-supercritical boiler dimana tingkat efisiensinya mencapai 40 persen.

Teknologi tersebut menggunakan batu bara kalori rendah yaitu 4.000 hingga 4.600 kkal per kilogram sehingga dapat menghasilkan emisi yang lebih rendah dan lebih ramah lingkungan. PLTU Cirebon Unit II merupakan proyek ekspansi dari PLTU Cirebon Unit I.

Dalam pengembangannya, Cirebon Power telah memperoleh beberapa penghargaan. Cirebon Power meraih penghargaan The Best Pioneer in Utilization of Clean Coal Technology in The Country di ajang ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award 2018 serta penghargaan khusus The Best Environmentally Concerned Company dalam ajang Indonesia Best Electricity Award 2018. Kedua penghargaan tersebut mengapresiasi usaha Cirebon Power terkait komitmen menjaga lingkungan dalam penerapan teknologi batu bara bersih.

Head of Communication Cirebon Power Yuda Panjaitan mengatakan, proyek ini hadir tidak hanya untuk memastikan pasokan energi. Pembangkit listrik senilai USD$2 miliar ini juga membawa efek investasi yang mendorong laju perekonomian Cirebon. “Kehadiran perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam proyek ini, berkontribusi mendongkrak pendapatan daerah melalui pajak dan retribusi, dan juga memberi kesempatan kerja bagi ribuan orang,” katanya, dalam sebuah kesempatan wawancara, baru-baru ini.

Kehadiran proyek-proyek energi di wilayah Cirebon, diharapkan menjadi salah satu faktor penarik investasi. Tentunya, menjadi kepastian bagi para investor atas kecukupan energi. (yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *