Ida Farida, Petugas KPPS Bayalangu Lor yang Sempat Hilang Ingatan

oleh -35 views
Petugas KPPS TPS 6 Desa Bayalangu Lor, Kecamatan Gegesik, Ida Farida, ditemui di rumahnya. Tampak Ida memperlihatkan hasil rontgen kepala yang diperoleh dari tim medis RSUD Arjawinangun. FOTO:ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Tragis nasib Ida Farida. Sehari setelah Pemilu 17 April, Petugas KPPS di Desa Bayalangu Lor, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon, itu jatuh sakit. Dokter menyatakan Ida menderita stroke otak ringan. Keluarga pun harus ngutang sana-sini untuk biaya rumah sakit.

Kondisinya belum sepenuhnya pulih saat ditemui Radar Cirebon, Minggu (12/5). Ida mencoba mengingat kembali apa yang dialaminya 3 pekan ke belakang. Tangan gemetar dan bicara yang terbata-bata, wanita 3 orang putra tersebut mengaku kapok untuk kembali menjadi petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara).

Ida bertugas mencatat Form C1 dan bekerja hampir 24 jam penuh di TPS 6 desa setempat. Terhitung sejak pukul 07.00, tepat Rabu 17 April 2019, hingga waktu subuh esok harinya atau Kamis 18 April. Saat itu, istirahatnya hanya sekadar santap siang pukul 12.00 dan jelang malam saat azan magrib berkumandang.

Sebelum pelaksanan pemilu, wanita 42 tahun itu juga sudah sibuk luar biasa. Dia diikutsertakan dengan berbagai persiapan pemilu. Seperti mencatat dan membagikan undangan, hingga mendirikan tenda TPS. Tanggung jawab yang ia emban, membuat tugasnya menjadi ekstra keras.

Upah Rp500 ribu yang diterimanya tidak sebanding dengan risiko yang dialami. Bahkan hingga kemarin, setiap perkataan yang didengar, masih sulit untuk dicerna oleh Ida. Ya, dokter memvonis Ida mengalami stroke otak ringan sebelah kiri dan membutuhkan waktu untuk pemulihan.

Anak ke-4 dari 7 bersaudara itu sempat dirawat selama 5 hari di RSUD Arjawinangun. Karena keadaan ekonomi yang tergolong kurang mampu, pihak keluarga memaksa mengistirahatkan Ida di rumah, meski dokter masih menganjurkan untuk dilakukan perawatan.

“Satu hari setelah pemilu itu rasanya Masya Allah sakit banget badan. Pada pegal kayak ditusuk-tusuk. Sampai dipijitin sama beberapa orang, dikerik punggungnya, tetap aja sakit semua,” tutur Ida saat ditemui Radar Cirebon di kediamannya di Dusun 2, Blok Pahing, Desa Bayalangu Lor, Kabupaten Cirebon.

Saat keadaan seperti itu, suami Ida sedang bekerja di Karawang sebagai buruh harian lepas. Penghasilan tiap bulan tidak menentu. Kadang bisa mencapai Rp2,5 juta. Sebelumnya, Ida sendiri membuka usaha warung tepat di depan rumahnya. Akibat kondisi yang belum sepenuhnya pulih, usaha warungnya terbengkalai. Jangankan untuk beraktivitas, berjalan dan keluar rumah pun belum bisa normal. “Kondisi kesehatan yang tidak bisa dipaksakan,” aku Ida.

Sepupu Ida, Robianto, mempertanyakan tanggung jawab penyelenggara pemilu saat ada korban seperti yang dialami Ida. Robi mengharapkan pemerintah daerah menengok dan melihat apa yang dialami Ida. Jika diberi kesempatan, Robi juga ingin menghadap secara langsung kepada ketua KPU Kabupaten Cirebon dan menceritakan secara langsung penderitaan keluarganya.

“Akibat kejadian itu, semua jadi ikut terimbas. Anaknya, ibunya, juga ikut sakit. Penghasilan yang seharusnya berdagang, tidak lagi dapat dilakukan. Kalau sudah seperti ini di mana peran penyelenggara pemilu. Beliau-beliau ini pahlawan demokrasi dan patut diberi penghargaan. Pelaksana pemilu seharusnya hadir ketika ada petugasnya yang mengalami kejadian seperti ini,” tegas Robi.

Robi mengaku sudah pernah mendengar bahwa ketua KPPS setempat telah meneruskan apa yang menjadi keinginan keluarganya kepada KPU. Namun, ia dan keluarga dibuat menunggu. Sampai kemarin belum ada kepastian terkait apa yang akan diupayakan oleh KPU maupun pemerintah daerah.

Di kesempatan yang sama, ibu kandung Ida, Nurhayati (67), merasa begitu miris melihat apa yang dialami anaknya. Ia pun tak henti-henti mengeluarkan air mata merasakan penderitaan yang dialami putrinya. Nurhayati mengatakan anaknya sempat 11 hari tidak ingat nama sendiri maupun keluarga.

“Waktu belum sadar, ya gak inget nama sendiri dan nama keluarga. Anak saya cuma ngomong ‘Ya Allah udah diitung’. Mungkin karena keinget terus sama pemilu. Kasihan keluarga lihatnya. Sampai saya dan cucu saya juga ikut sakit. Waktu perawatan di rumah sakit juga pakai umum (bayar sendiri, red) bukan BPJS. Utang sana- sini sama tetangga untuk ngecukupin itu (biaya rumah sakit, red). Sekarang pada nagih utangnya,” kata Nurhayati. (ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *