Deis Sebut Bawaslu Offside, Protes Sanding Data yang Tidak Melibatkan Parpol

oleh -11 views
ILUSTRASI

KUNINGAN-Konflik data perolehan suara internal Gerindra Dapil I, masih tetap bergulir. Penjelasan hasil sanding data suara Caleg Sri dan Eka sudah disampaikan KPU berdasarkan rekomendasi Bawaslu. Atas hal tersebut, Ketua DPC Gerindra Kabupaten Kuningan H Dede Ismail SIP MSi angkat bicara dan melakukan protes keras kepada Bawaslu Kuningan, karena melangkah tidak atas sepengetahuan Gerindra sebagai partai yang menjadi kendaraan caleg menuju gedung dewan.

Kepada sejumlah media saat berada di KPU Kuningan beberapa hari lalu, Dede Ismail mengungkapkan kekesalannya terhadap sikap Bawaslu Kuningan, yang menurutnya tidak memberitahukan perihal adanya pelaporan salah seorang calegnya kepada Bawaslu. Kekesalannya muncul karena pelaporan itu telah mengakibatkan terjadinya sanding data saat Pleno Rekapitulasi Hasil Suara Pemilu 2019 di tingkat Provinsi Jabar. “Pelaporan kepada Bawaslu biasanya diwakili oleh partai politik. Seorang calon anggota legislatif, berangkat sebagi peserta pemilu itu dari parpol, tidak dari Bawaslu. Bawaslu itu kan cuma wasit, wasit kok offside gitu? Untuk ini kita akan mengambil langkah, karena seolah-olah partai ini tidak ada di Kabupaten Kuningan,” ketus Deis, panggilannya.

Dengan adanya langkah Bawaslu itu, selaku Ketua Gerindra Kuningan, Deis menilai Bawaslu sudah tidak menghargai ketua parpol. “Selama ini kan kita seolah dirugikan oleh Bawaslu, emang Bawaslu itu partai politik, apa karena kedunguan, enggak ngerti regulasi?” sindirnya.

Terkait langkah yang akan dilakukannya, menyikapi proses sanding data yang dinilainya tidak melibatkan parpol, Deis bertekad akan melakukan koreksi sesuai peraturan Bawaslu. “Koreksi, dan bisa saja tidak usah mengindahkan Bawaslu provinsi karena mencederai konsep penyelenggaraan pemilu,” ucapnya.

Ia juga mempertanyakan eksistensi pleno di tingkat kecamatan, serta pleno tingkat kabupaten yang dilaksanakan KPU. Bahkan, Deis juga menyoroti posisi ketua tim sukses yang melaporkan dan mengatakan kehadiran dirinya saat menjadi saksi disebut tidak bertanggung jawab. “Emang saya siapa? Saya menjadi saksi saat pleno kabupaten adalah untuk mengamankan hasil pleno di tingkat kecamatan. Kalau mau ribut, silakan di tingkat kecamatan, jangan bikin ulah di tingkat kabupaten,” ucapnya.

Menurutnya, selama ini ia berdiam diri, namun, ke depan bertekad akan menunjukkan siapa dirinya yang sejatinya. “Kita akan laporkan juga ke DKPP, emang Bawaslu itu siapa? Saya akan lawan Bawaslu,” tantang Deis dengan nada tinggi. (muh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *