Mita Penderita Infeksi Selulitis, Minta Telapak Kaki Kirinya Diamputasi

oleh -102 views
Kondisi Mita yang sempat menderita infeksi selulitis di kakinya. Mita mendapatkan perawatan di rumah dari Puskesmas Sitopeng. FOTO:KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
Kondisi Mita yang sempat menderita infeksi selulitis di kakinya. Mita mendapatkan perawatan di rumah dari Puskesmas Sitopeng. FOTO:KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON

CIREBON-Sempat terkena infeksi selulitis yang membuat kakinya mengalami peradangan parah, Mita (23) meminta kakinya diamputasi. Padahal, kini kondisinya sudah jauh lebih baik.

Raut wajahnya lebih segar. Warga RT 01 RW 06 Kedung Kerisik, Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon tersebut kondisinya jauh lebih baik. Namun Mita tetap diliputi kekhawatiran infeksinya kembali. Ia pun berharap ada tindak lanjut lain secara medis. “Alhamdulillah, sudah mendingan. Cuma tinggal ini aja yang masih harus diperban,” ujar Mita, menunjukan pembalut di betis dan tumit kaki kirinya.

Kini Mita tampak lebih ceria. Saat ditemui Radar Cirebon, Minggu (16/6), kondisinya jauh berbeda dengan enam bulan yang lalu. Mita antusias menceritakan kondisinya. Tidak tampak lagi raut malu malu dan takut berbicara dengan orang lain. Saat diwawancara. Mita bahkan hanya ditemani anak semata wayangnya saja, Syahru Rosyidin yang masih berumur 5 tahun.

Permintaan Mita untuk amputasi, juga dikarenakan mati rasa di bagian bawah tubuhnya. Ini sudah dirasakannya sejak usia 4 tahun. Penyakit aneh yang dialami Mita membuatnya tidak bisa melakukan aktivitas orang kebanyakan. Untuk berpindah tempat, Mita harus menyeret nyeret tubuhnya. Kondisi tersebut diperparah dengan infeksi kulit yang membuat kakinya mengalami peradangan.

Beruntung saat itu Mita langsung ditangani oleh petugas kesehatan setempat, Nur Aisah SKep. Perawat yang bertugas di UPT Puskesmas Sitopeng setiap hari datang ke rumah orang tua Mita untuk mengganti pembalut, membersihkan luka, dan mengingatkan Mita untuk rutin minum obat.

Rutinitas itu dilakukan Iis selama kurang lebih 4 bulan. Sebelum kemudian penggantian perban dilakukan secara mandiri oleh Mita. “Ibu Iis masih rutin datang, tapi sekarang ini katanya lagi sibuk di pustu (Puskesmas Pembantu Kedung Krisik). Tapi untuk ganti perban sudah bisa sendiri,” ungkapnya.

Mita menyampaikan terima kasihnya kepada masyarakat yang telah membantu. Termasuk komunitas yang mengulurkan tangannya. Meski demikian, Mita mengaku masih merasa khawatir dengan kondisinya. Terutama untuk telapak kaki sebelah kiri yang menurutnya sudah tidak menyatu lagi dengan tulang kering kakinya. Ia bahkan berharap agar telapak kaki kirinya diamputasi.

Ia khawatir dari luka tersebut akan muncul kembali infeksi yang menyebabkan peradangan. Meskipun tentunya, keputusan tersebut harus tetap dikonsultasikan dengan dokter yang menanganinya. “Takutnya, nanti akan muncul infeksi lagi dari sini,” ungkapnya. (war)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *