Lahan Pertanian 16 Kecamatan di Kuningan Terancam Gagal Panen

oleh -193 views
Ilustrasi. Foto: Dok. Radar Cirebon

KUNINGAN – Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan mencatat, luas areal pertanian yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau yang baru berjalan dua bulan ini sudah mencapai 2.404 hektare.

Plt Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Sahibul, mengatakan, dari total luas areal pertanian padi di Kabupaten Kuningan meliputi 32 kecamatan seluas 19.878 hektare, ternyata 90 persen di antaranya mulai terdampak kekeringan. Tak sedikit di antaranya mengalami kekeringan parah hingga menyebabkan tanaman padi nyaris puso atau gagal panen.

“Terparah saat ini terjadi di Kecamatan Ciawigebang, ada 271 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan berat dan 121 hektare kekeringan sedang. Jika dalam kurun waktu satu bulan ke depan tidak turun hujan atau terairi, maka bisa dipastikan lahan pertanian tersebut akan mengalami puso,” ungkap Sahibul kepada Radar Kuningan.

Dijelaskan Sahibul, ribuan hektare sawah petani yang terancam puso tersebar di 16 kecamatan dengan paling banyak berada di Kuningan bagian Utara dan Timur. Hampir 90% sawah yang terancam gagal panen, kata dia, merupakan sawah tadah hujan dan lokasinya jauh dari sumber mata air.

Misalnya saja di Kecamatan Maleber, ada sekitar 408 hektare sawah dalam keadaan kekeringan dengan kategori ringan. Sementara kecamatan lain seperti Ciawigebang, kekeringan terjadi di 168 hektare sawah kategori ringan, 129 hektare sawah kategori sedang, dan 271 hektare sawah kategori berat.

Kekeringan sawah kategori berat lainnya yakni di Kecamatan Japara sebanyak 8 hektare. Kemudian Kecamatan Hantara mencapai 12 hektare, dan Kecamatan Cigandamekar 5 hektare.

“Kalau umur tanaman padinya masih di bawah 60 hari, ada kemungkinan puso. Tapi mudah-mudahan bisa turun hujan, kita hanya bisa berdoa, tapi ada informasi katanya Ciamis sudah turun hujan, mudah-mudahan di sini juga segera turun hujan,” ungkapnya.

Atas kondisi tersebut, Sahibul mengatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya misalnya mengarahkan petani untuk melakukan pompanisasi bagi lahan pertanian yang dekat dengan aliran sungai atau embung, gilir giring hingga tarip air.

“Tapi itu dilakukan terhadap lokasi sawah yang ada sumber airnya. Jika ada airnya tapi kecil, kita imbau kepada petani agar dimanfaatkan secara bergilir,” katanya. (fik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *