Masalah Kekeringan Butuh Solusi Konkret, 800 Warga Terdampak, Butuh 78.900 Liter Air Bersih Per Hari

oleh -30 views
Ilustrasi-Krisis Air Bersih
Ilustrasi-Krisis Air Bersih

CIREBON-Musim kemarau mengakibatkan sumur-sumur milik warga di Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon mengering.

Dari observasi Radar Cirebon, sedikitnya terdapat 800 warga yang kesulitan air bersih. Sementara dari kalkulasi kebutuhan air per hari, sedikitnya diperlukan 78.900 liter. Lantaran defisit sumber air, warga  terpaksa harus membatasi penggunaan dan bergiliran.

Namun bila mengacu pada standar Pola Konsumsi dan Kebutuhan Pokok Minimal Nasional Ditjen Pekerjaan Umum, setiap orang setidaknya butuh 144 liter per hari. Dengan warga terdampak 800 orang, setidaknya dibutuhkan 115 ribu liter/hari.

Dari data Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Kota Cirebon empat RW yang rawan kekurangan air bersih yakni, RT 05 RW 04 Surapandan dengan  kebutuhan air sekitar 12.900 liter per hari, RT 01 RW 07 Sumur Wuni dengan kebutuhan air sekitar 9 ribu liter per hari, RT 05 RW 08 Kopi Luhur dengan kebutuhan air sekitar 12 ribu liter per hari, RT 02 RT 03 RW 09 Cibogo dengan kebutuhan air sekitar 15 ribu liter per hari.

Ketua RW 08 Kopi Luhur, Suharja mengungkapkan, warga saat ini bergantung pada sebuah sumur di lahan pertanian. Namun untuk bisa mengambil air, mereka harus mengantre sejak dini hari. Padahal debit air di sumur tersebut kian menyusut.

Satu sumur milik warga biasanya dipakai oleh 10 sampai 15 kepala keluarga di sekitarnya. Sementara sumur artesis juga hanya dimanfaatkan oleh beberapa warga yang rumahnya dekat saja. Tidak bisa memenuhi kebutuhan seluruh warga.

Kondisi terparah dialami oleh warga RT 05 dan 06. Meski warga yang tinggal di RT 01 dan 02 juga sama mengalami krisis air. “Di wilayah Kopi Luhur kebanyakan rawan air kalau musim kemarau. Tapi yang paling parah itu RT 05 dan 06,” kata Suharja.

Di wilayah Kopi Luhur, Cadas Ngampar, Kedung Jumbleng dan Kedung Mendeng, kekeringan sudah terjadi hampir setiap tahun. Kekeringan seolah menjadi rutinitas setiap musim kemarau datang. Topografi wilayah argasunya itu memang rata rata berupa dataran tinggi. Sehingga, untuk mendapatkan air bersih, warga harus mengebor sumur yang cukup dalam. Sementara sumur artesis yang dibangun oleh pemerintah tidak mampu memenuhi kebutuhan warga. Diperkirakan, 800 warga yang kena dampak kekeringan dengan asumsi rata-rata setiap RW berpenduduk 200 orang.

Sementara itu, khusus yang terjadi di wilayah RW 05 Kedung Krisik Utara yang topografinya relatif lebih datar, kekeringan lebih banyak disebabkan oleh faktor kerusakan pada pipa pipa distribusi dari sumur artesis. Kondisi itu sudah terjadi sejak dua tahun. Padahal, keberadaan sumur artesis tersebut begitu penting untuk pemenuhan kebutuhan warga RW 05 Kedung Krisik Utara.

Anggota DPRD Daerah Pemilihan (Dapil) Harjamukti, Kota Cirebon Een Rusmiati mengaku sudah berkali kali meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (DPUPR) untuk mengantisipasi masalah air bersih yang terjadi setiap tahun.

Diakuinya, dari pemerintah juga sudah melakukan upaya distribusi air bersih dengan menggunakan mobil tangki. Namun, karena air bersih merupakan kebutuhan sehari hari, solusi tersebut tidak bisa dilakukan setiap saat. “Kalau warga jelas nggak mampu membuat sumur artesis. Ini pemerintah harus turun tangan,” katanya.

Een mengungkapkan, tahun lalu DPRD sudah menganggarkan untuk program penambahan sebanyak 8 titik sumur artesis. Tapi sampai sekarang, Een melihat belum dilakukan secara optimal. Ia khawatir anggaran ini dialihkan untuk program lainnya.

Selain itu, untuk masalah yang terjadi di RW 05 Kedung Krisik Utara, Een berharap pemerintah membantu untuk menganggarkan perbaikan jaringan pipa yang rusak. Meskipun sumur artesis dikelola oleh swadaya masyarakat, tetapi akibat kerusakan itu, warga tidak bisa mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhanya. “Di RW 05 kan sebenarnya sudah dibangun. Tapi pemeliharaanya aja yang kurang baik. Tapi kembali lagi itu kan kebutuhan masyarakat sehari hari. Kalau memang pemeliharaanya harus dianggarkan ya dianggarkan,” tandasnya.

Lurah Argasunya, Dudung Abdul Barry mengakui, kekeringan memang sering kali dirasakan warga terutama saat musim kemarau. Meski musim hujan baru berlalu dua bulan lalu, namun sumur-sumur warga sudah mengering. Dari laporan yang diterima, RW 08 Kopi luhur mengalami kondisi terparah. “Sekarang untuk kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan kiriman dari PDAM (Perumda Air Minum Tirta Giri Nata, red),” katanya.

Bantuan dari Perumda Air Minum hanya datang sepekan dua kali. Lembaga-lembaga lainnya juga sudah mendistribusikan air ke wilayah yang terdampak. Namun, ke depan perlu dipikirkan bagaimana menaggulangi masalah ini agar tidak terus berulang setiap kemarau. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *