Dinsos Sebut Atasi Masalah Anak Punk Harus dengan Pendekatan Psikososial

oleh -167 views
ILUSTRASI

CIREBON-Tidak terhitung berapa kali petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia anak jalanan atau anak bergaya punk yang biasa mangkal di beberapa titik seperti di titik seperti lampu merah Perumnas, Kanggraksan, Terusan Pemuda. Namun razia itu tidak membuat jera para anak jalanan tersebut. justru semakin hari, jumlahnya tidak berkurang.

Wewenang penanganan persoalan anak punk yang digolongkan dalam penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) ini memang sejatinya menjadi tanggung jawab dinas sosial. Tugas Satpol PP hanya sampai pada ranah mengamankan dan mendata saja.

Bukan tanpa upaya, Dinsos juga sebenarnya sudah berupaya mengatasi masalah tersebut. Diakui oleh Pekerja Sosial Perlindungan Anak Dinsos Kota Cirebon, Siti Fatimah. Menurutnya, mengatasi persoalan anak punk yang kerap meresahkan oleh masyarakat bukanlah perkara mudah. Hal itu karena mereka mempunyai mobilitas yang cukup tinggi.

Berbeda dengan persoalan PMKS lainnya seperti penyandang disabilitas, anak telantar atau anak jalanan yang cenderung terkonsentrasi di beberapa titik saja, anak punk justru hidup dengan berpindah pindah tempat. Maka dari itu untuk mengatasi masalah tersebut tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa. Perlu treatment khusus dalam menangani masalah tersebut, yakni dengan melakukan pendekatan psikososial.

“Dulu dengan salah satu perguruan tinggi, kita pernah mengadakan pelatihan sablon kepada anak punk. Tapi karena mobilitasnya tinggi, ya kita cukup kerepotan. Tetapi tetap masalah anak punk ini menjadi perhatian dinsos yang karena termasuk dalam AMPK (anak memerlukan perlindungan khusus),” terangnya.

Berdasarkan pengamatannya, komunitas punk yang ada di Kota Cirebon kebanyakan merupakan anak-anak dari berbagai daerah. Namun ada juga sebagian kecilnya yang berasal dari wilayah Kota Cirebon. Biasanya mereka akan berkumpul saat ada pertunjukan musik.

Meskipun seringkali dianggap biang onar, Siti menilai masyarakat tidak terlalu mengkhawatirkan keberadaan mereka. Karena menurutnya, komunitas punk ini merupakan gerakan perlawanan seperti layaknya sebuah ideologi. Kehadiran anak-anak punk ini, lebih kepada aspek pelampiasan atas apa yang mereka alami. Khususnya pemberontakan pada keluarga.

“Sebenarnya meskipun penampilan mereka terkesan sangat dan urakan, atau misalnya memakai narkoba atau seks bebas dengan sesama kelompoknya, mereka bukan untuk melakukan aksi kriminalitas. Yang perlu dipahami adalah bahwa apa yang mereka lakukan upaya menunjukan jati diri,” jelasnya. (awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *