Era Digital, Awasi Arus Informasi Anak

oleh -3 views
anak-SD-nongkrong-di-MCD-2
Tiga siswa sekolah dasar di sekitar Jl Kartini bermain gawai sembari menunggu jemputan di restoran cepat saji. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON – Seiring berkembangnya zaman, era digital memberikan dampak pada berbagai hal. Salah satunya pada psikologis anak. Kondisi ini menuntut orangtua untuk menggunakan pola asuh yang tepat.

Psikolog Rini S Minarso mengatakan, era digital menyebabkan informasi dengan mudah diakses dan didapatkan oleh berbagai kalangan. Bukan hanya orang tua, namun anak-anak.

Meskipun ini memiliki dampak positif, namun derasnya arus informasi yang tak diiringi dengan pendampingan akan memberikan impact buruk pada anak. “Misalnya,tindakan kekerasan saat ini yang sebagian besar terjadi karena tontonan anak-anak tanpa filter orang tua,” jelasnya.

Beberapa waktu terakhir, tindakan anarkistis seperti tawuran terjadi kembali di beberapa kalangan remaja. Hal ini menurutnya menjadi salah satu impact dari pemahaman informasi yang diterima anak-anak tanpa adanya pendampingan. Terbiasa menonton hal-hal yang bersifat anarkistis di internet secara bebas contohnya.

Hal -hal yang berkaitan dengan sifat anarkistis di sosial media tentu menjadi salah satu pemicu yang akarnya membuat mereka melakukan hal sedemikian rupa, pertengkaran hingga berani menentang aturan. “Meniru menjadi sifat dasar remaja,” singkatnya.

Dalam penanganan ini, orang tua memiliki peranan utama dalam membentuk karakter anak. Pola asuh orang tua harus disesuaikan dengan psikologi anak kebanyakan saat ini.

Ada tiga dasar yang menjadi basic pola asuh, yakni otoriter, permisif, dan gabungan dari keduanya. Menurutnya, pola asuh gabungan dari kedua basic otoriter dan permisif inilah yang paling tepat diterapkan dalam membentuk karakter generasi milenial saat ini.

Bentuk pola asuh ini merupakan gabungan dimodifikasi, yakni menerapkan aturan dan tidak terlalu mengekang. “Contohnya saat mereka berhadapan dengan gawai, yang harus dilakukan orang tua buka melarang, namun memberikan batasa aturan waktu yang harus mereka patuhi,” terangnya.

Lanjutnya, pola asuh dan psikologi remaja saat ini tentu berbeda seiring dengan berkembangnya teknologi. Jika dahulu untuk mendapatkan pengetahuan serba terbatas, namun kini siapa pun bisa mendapatkan informasi tersebut.

Sehingga saat melarang anak, maka akan fatal akibatnya. Karena ia mungkin saja akan mencari tahu di luar pengetahuan orang tua.

“Saat mereka dilarang, mereka akan berusaha mencari tahu sendiri, otomatis informasi tidak dapat difilter. Mereka mungkin tidak akan bisa membedakan informasi dan memakan mentah informasi yang didapat. Di sini peran orang tua sangat penting untuk memfilter segala informasi yang masuk pada anak,” paparnya.

Ia juga berpesan pada para orang tua untuk selalu dekat dengan anak, yakni dengan menjaga ikatan emosional dengan anak melalui intesitas komunikasi salah satunya. Kemudian juga pahami anak.

“Perlu diingat bahwa orangtua adalah yang berkuasa sepenuhnya terhadap anak, untuk membentuk anak seperti apa nantinya,” pungkasnya. (apr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *