Tahun Ini, Bus Trans Cirebon (BRT) Ditargetkan Beroperasi

oleh -28 views
Dinas Perhubungan Kota Cirebon menegaskan bahwa Bus Rapit Transit (BRT) harus beroperasi tahun ini. Total ada sepuluh BRT yang diterima Pemkot Cirebon. FOTO: OKRI RIYA NA/RADAR CIREBON
Dinas Perhubungan Kota Cirebon menegaskan bahwa Bus Rapit Transit (BRT) harus beroperasi tahun ini. Total ada sepuluh BRT yang diterima Pemkot Cirebon. FOTO: OKRI RIYA NA/RADAR CIREBON

CIREBON-Bus Rapid Transit atau disingkat BRT atau Trans Cirebon sudah terparkir di Kantor Dinas Perhubungan. Meski belum bisa beroperasi, tapi sudah ditargetkan kalau tahun ini armada transportasi masal tersebut mulai mengaspal.

Kepala Dishub Kota Cirebon Ir H Yoyon Indrayana MT mengatakan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dalam waktu dekat akan mengirim armada tambahan. Setelah itu, ditandatangani Berita Acara Serah Terima Operasional (BASTO).

Sementara untuk kesiapan dari pemerintah kota, dishub telah mendapatkan alokasi anggaran Rp600 juta untuk mempersiapkan sarana pendukung khususnya halte. “Kita tunggu dulu surat izin dari kementrian perhubungan, baru survei dan siap beroperasi,” tutur Yoyon.

Saat ini pihaknya juga secara aktif terus berkoordinasi dan mengajak pihak ketiga sebagai operator, atau Badan Layanan Umum (BLU). Pihaknya terus melakukan pembahasan pengelolaan yang cocok dan terbaik. “Di beberapa kota lain pun seperti Bandung dan Smearang memiliki pengelolaan yang berbeda, kami masih terus membahas hal ini,” ujarnya.

Sementara untuk rute operasional, Yoyon membuka wacana pemanfaatan trayek angkot yang sudah sepi. Salah satu yang dipikirkannya adalah rute angkot D7. “Bisa saja kita manfaatkan, misal D7 sudah semakin sepi dan tidak menguntungkan untuk angkot. BRT bisa mengisi rute kritis semacam ini,” tandasnya.

Dari data dishub, rute D7 mencakup, Terminal Dukuh Semar, Jl Pangeran Drajat, Jl Kutagara, Jl Jagasatru, Jl Lawanggada, Jl Nyi Mas Gandasari, Jl Pangeran Suryanegara, Jl Sukalila Selatan, Jl Siliwangi (Pasar Pagi), Jl RA Kartini, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Jl Raya Pilang, simpang Kedawung, Jl Tuparev, Jl Cipto Mk, Jl Brigjen Dharsono, Jl Ahmad Yani, dan kembali ke Terminal Dukuh Semar.

Sementara, Ketua Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Cirebon Karsono SH MH  menyambut baik hadirnya BRT di Cirebon. Hal tersebut dikarenakan betapa pentingnya transportasi masal, untuk hadir di tengah masyarakat Cirebon. “Saya mewakili pengusaha angkutan darat inginnya bisa segera direalisasikan. Belum tentu setiap daerah dapat tapi kita yang sudah dapat ini belum berjalan,” paparnya.

Karsono mengaku, sudah mengajukan sosialisasi maupun studi banding ke kota yang sudah menjalankan trans metro kota. Untuk itu dirinya meminta ada diskusi bersama dalam forum. Komunikasi yang sudah ada tersebut bisa disampaikan dalam Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FLLAJ) Cirebon.  “Komunikasi kami sudah sering. Tapi memang belum pernah digelar secara resmi. Nah sebagai anggota tetap di sana, belum pernah ada rapat terkait BRT ini. Saya sudah usulkan ke Pak Yoyon juga,” jelasnya.

Lanjutnya, kehadiran BRT ini bisa menjadi angin segar bagi salah satu wilayah yang membutuhkan transportasi lintas wilayah.

Ia meyakini, kebaradaan BRT tidak akan menggerus pasar angkot. Apalagi rute layanannya berbeda. Hanya saja untuk kepastiannya, Organda menantikan rapat koordinasi dengan dishub dan FLLAJ. Sebagai gambaran rute BRT, dishub pernah memiliki tuga opsi. Yang pertama, BRT melayani transportasi wilayah selatan.

Kedua, menggunakan dua koridor utama yakni selatan dan utara. Penetapan koridor mengacu pada Jl Brigjen Dharsono (By Pass). Sementara opsi terbaru ialah memanfaatkan rute angkot yang kondisinya kian sepi. (apr/awr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *