Corona Jadi Ancaman Serius Dunia

oleh -26 views
KONFERENSI PERS CORONA: Tedros Adhanom Ghebreyesus (tengah), Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Michael Ryan (kiri), Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, dan Sylvie Briand, Direktur Kesiapan Bahaya Infeksi Global dari Organisasi Kesehatan Dunia. FOTO: Salvatore Di Nolfi / Keystone via AP

JENEWA – Hasil konferensi di Jenewa, Selasa (11/2/) waktu setempat, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa virus COVID-19 atau corona saat ini menjadi ancaman serius bagi dunia.

Jumlah korban meninggal setelah terinfeksi virus corona sampai hari ini, Rabu (12/2), mencapai 1.107 orang. Di Provinsi Hubei, China, yang menjadi pusat penyebaran virus tersebut menjadi yang terparah, tercatat 1.105 orang yang meninggal.

Sedangkan jumlah orang yang meninggal di luar China akibat virus corona sampai saat ini berjumlah dua orang, yakni di Filipina dan Hongkong.

Sementara sebanyak 1.638 penduduk China yang baru terjangkit virus tersebut. Hal itu membuat jumlah orang yang terkena virus tersebut di China mencapai 33.366. Sedangkan di seluruh dunia tercatat ada 44.138 orang yang terkena virus tersebut.

“Dengan 99 persen kasus di China, selain sangat darurat untuk negara itu, juga menjadi ancaman sangat besar bagi seluruh dunia,” kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam pidato pembukaan konferensi di Jenewa seperti dikutip dari AFP, Selasa (11/2) waktu setempat.

Tedros menyatakan, bahwa hingg saat ini belum ada pengobatan atau vaksin khusus untuk melawan virus mematikan tersebut. WHO telah berulang kali mendesak, negara-negara untuk berbagi data untuk penelitian lebih lanjut mengenai penyakit ini.

“Itu terutama kaitannya dengan berbagi sampel dan urutan. Untuk mengalahkan wabah ini, kita perlu berbagi secara terbuka dan adil, sesuai dengan prinsip keadilan dan kesetaraan,” kata Tedros.

Tedros juga meminta, adanya upaya tindakan pencegahan dan bantuan terhadap negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah. Menurutnya, jika virus ini mencapai negara dengan sistem kesehatan yang lebih lemah, maka akan mendatangkan malapetaka.

“Untuk sekarang nampaknya tidak seperti itu, tetapi bukan berarti hal itu tidak akan terjadi. Mungkin saja,” ujarnya.

Tedros menyampaikan, bahwa WHO telah mengadakan konferensi dengan 400 ahli medis untuk menyiapkan roadmap dalam merespons wabah COVID-2019, termasuk pembahasan seputar vaksin.

“Mereka butuh waktu untuk mengembangkannya (vaksin), tetapi sementara itu, kami tidak akan diam saja. Vaksin pertama diperkirkan bisa siap dalam 18 bulan,” ungkapnya.

Sementara itu, ahli epidemiologi China dan penasihat medis senior Zhong Nanshan mengatakan, bahwa puncak penyebaran wabah COVID-2019 kemungkinan akan terjadi sebelum akhir Februari.

“Saya berharap wabah ini atau peristiwa ini bisa berakhir pada bulan April,” ujar Zhong. (der/afp/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *