Ada 13 Warga Jabar Bebas Karantina di Natuna

oleh -19 views
CEGAH VIRUS: Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menghadiri Rapat Koordinasi Kewaspadaan Virus Corona di Provinsi Jawa Barat bersama pihak terkait di RSUP Dr Hasan Sadikin, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. FOTO: Biro Humas dan Keprotokolan Setda Pemprov Jabar

SEBANYAK 285 warga negara Indonesia (WNI) yang menjalani observasi selama 14 hari di Natuna, Kepulauan Riau, akan dikembalikan ke keluarga hari ini, Sabtu (15/2). Di antara jumlah itu, sesuai data Kemenkes,ada 13 warga Jawa Barat. Para WNI ini menjalani observasi setelah dievakuasi dari Wuhan, Provinsi Hubei, China, akibat wabah virus corona atau COVID-19.

Meski telah dinyatakan sehat, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Muhammad Adib Khumaidi meminta pemerintah terus melakukan pemantauan dan identifikasi.“Paling penting dan juga diperhatikan buat teman-teman yang di Natuna, yaitu tetap harus teridentifikasi posisi saat mereka kembali ke keluarga masing-masing,” katanya di Jakarta, kemarin.

Pemantauan, menurutnya, agar jika terjadi keluhan bisa langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga medis.“Jangan dipahami sebagai isolasi. Lebih pada upaya mengetahui lokasi dan tempat fasilitas kesehatan terdekat dari domisili mereka,” katanya.

Adib juga memastikan bahwa mereka yang telah menjalani observasi selama 14 hari sudah sehat. Sebab selama rentang waktu tersebut tidak ada menunjukkan tanda-tanda mereka terserang corona.“Saya kira masyarakat tidak perlu khawatir karena mereka sudah melalui masa observasi. Tidak harus menjauhi mereka, bersikap biasa-biasa saja,” ucapnya.

Senada diungkapkan oleh anggota Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning. Dia meminta tidak ada perilaku diskriminatif kepada para WNI itu. “Yang penting semua menjaga kesehatan dan tak ada diskriminasi penyakit. Tidak boleh juga mereka menjadi komunitas sendiri dan menjadi stigma, itu yang bahaya,” ujarnya.

Dia mengaku khawatir para WNI yang telah diobservasi mendapat penolakan dari warga di kampung halamannya. “Jadi nanti mereka jadi kumpul cuma mereka saja. Terus nanti mereka pulang yang bahaya lagi tiba-tiba ada yang meninggal gara-gara flu dan disebut ini gara-gara dia pulang,” katanya. (gw/fin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *