Ziarah ke Mbah Moen, Perjalanan Umrah Bersama Salam Tour (6)

oleh -28 views
UMRAH-BERSAMA-SALAM-TOUR
UMRAH LANCAR: Jamaah Salam Tour foto bersama setelah melaksanakan tawaf. Cuaca Makkah yang lebih hangat cukup membantu kelancaran umrah jamaah. FOTO: DOK. ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

Musim haji tahun lalu meninggalkan duka mendalam untuk umat muslim Indonesia. Tepat empat hari sebelum pelaksanaan wukuf di Arafah, kiai besar nan kharismatik, KH Maimoen Zubair berpulang dan dimakamkan di Ma’la, Makkah.

Andri Wiguna, Makkah

KH Maimoen Zubair dimakamkan satu kompleks dengan Siti Kadhijah, istri Nabi Muhammad SAW. Lokasi kompleks pemakaman Ma’la tidak begitu jauh dari Masjidilharam. Selain bisa menggunakan taksi dengan ongkos 50 riyal (sekitar Rp200 ribu), perjalanan menuju Ma’la juga bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 30 menit.

Jamaah umrah dan haji dari Indonesia selain berkunjung secara khusus untuk berziarah ke makam Siti Khadijah, ada yang juga secara khusus menziarahi makam pengasuh Ponpes Sarang, Rembang, Jawa Tengah, tersebut. Salah satu yang berhasil ditemui Radar di kompleks Ma’la adalah Pratikno, mukimin atau penduduk Indonesia yang bermukim di Arab Saudi.

Menurut Pratikno, sebelum Mbah Moen –panggilan untuk KH Maemoen Zubair– dimakamkan di Ma’la, sudah banyak jamaah yang khusus datang ke tempat pemakaman tersebut. “Sebenarnya dari dulu sudah ramai, sudah banyak yang datang ke sini untuk ziarah Siti Khadijah. Dengan dimakamkannya Mbah Moen, otomatis semakin banyak jamaah Indonesia yang datang ke sini,” ujarnya.

Menurutnya, letak makam Mbah Moen sangat familiar. Oleh karena itu agar bisa menziarahi makam Mbah Moen para jamaah bisa menayakan langsung titik lokasi pemakaman kepada petugas di lokasi itu. “Petugas-petugas biasnya sudah tahu. Kalau ke Ma’la tinggal tanya saja makam ulama besar dari Indonesia yang belum lama meninggal, pasti tahu,” jelasnya.

Mbah Moen sendiri, menurut Pratikno, bukanlah satu-satunya ulama Indonesia yang dimakamkan di Ma’la. Beberapa ulama kondang tanah air juga dimakamkan di situ. Seperti Syeikh Ahmad Khatib Sambas (wafat tahun 1875), Syeikh Nawawi Banten (1897), Syeikh Junaid Betawi (akhir abad 19 M), Syeikh Abdul Haq Banten (1903), Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau (1916), Syeikh Abdul Hamid Kudus (1916), Syeikh Mahfuzh Tremas (1920), Syeikh Mukhtar Bogor (1930), Syeikh Umar Sumbawa (1930-an), Syeikh Abdul Qadir Mandailing (1956).

“Pengaruh Mbah Moen tentu sangat besar dan menjadi magnet bagi jamaah haji dan umrah untuk datang dan menziarahi Mbah Moen. Setiap hari ada saja yang datang,” imbuhnya.

Kompleks pemakaman Ma’la sendiri merupakan area pemakaman yang berundak dan berada di perbukitan. Di bagian utama makam, ada makam dari Istri Nabi Muhammad SAW yang dikelilingi tembok tinggi.  “Saya pribadi sudah beberapa kali ke sini, baik saat sedang mengantarkan jamaah atau secara pribadi. Mbah Moen sendiri punya banyak teladan yang bisa dipelajari dan dijadikan pegangan hidup yang pas dengan kondisi saat ini,” bebernya.

Sementara itu, Rolan, Anggota DPLN SBMI Jeddah yang juga ditemui Radar di kompleks Ma’la menuturkan ia masih mengingat betul hari di mana Mbah Moen meninggaldunia. Saat itu hari masih pagi ketika semua petugas haji, termasuk dirinya, tiba-tiba mendapatkan informasi bahwa kiai kharismatik tersebut meninggal dunia.

“Saat itu sedang rapat evaluasi, tiba-tiba semua rapat dihentikan karena semuanya berangkat ke rumah sakit dan mempersiapkan pemakaman. Saya kebetulan saat itu tidak bisa hadir karena tugas saya masih belum selesai. Baru sekarang ada kesempatan dan melihat Ma’la serta ziarah ke Mbah Moen,” bebernya.

Menurut pria yang sehari-hari bekerja di Kota Jeddah tersebut, ada perbedaan mencolok terkait bentuk makam di Ma’la dan di Indonesia. Selain itu, di Ma’la pemerintah menyediakan minum gratis bagi seluruh peziarah. “Di sini juga bersih, tidak ada sampah. Semua bentuk makam juga sama tidak ada perbedaan. Hanya hamparan tanah berpasir dan batu yang dijadikan penanda. Sangat berbeda sekali dengan di Indonesia,” ungkapnya.

Di akhir pembicaraan, Rolan pun berharap akan ada dan muncul ulama-ulama lainnya yang akan menjadi suluh dan penerang bagi Indonesia dan dunia sepeninggal Mbah Moen. (*/bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *