Pabrik Gula Sindanglaut Akhirnya Resmi Dibekukan

oleh -7.355 views
PG-SINDANGLAUT-DIBEKUKAN
Sekretaris Perusahaan PT PG Rajawali II, Erwin Yuswanto (kanan) menggelar jumpa pers terkait pembekuan operasional PG Sindanglaut, di Jalan DR Wahidin, Kota Cirebon, Selasa (18/2). Foto: Dedi Haryadi/radarcirebon.com

CIREBON – Pabrik Gula (PG) Sindanglaut di Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, akhirnya ditutup hingga waktu yang tak ditentukan pada awal tahun ini. Kurangnya suplai bahan baku tebu, menjadi penyebab kerugian operasional PG Sindanglaut pada beberapa tahun terakhir.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Perusahaan PT PG Rajawali II, Erwin Yuswanto saat menggelar jumpa pers di kantor PG Rajawali II, Jalan DR Wahidin, Kota Cirebon, Selasa (18/2).

Erwin menjelaskan, PT PG Rajawali II selaku pengelola PG Sindanglaut, memindahkan produksi gula ke Pabrik Gula Tersana Baru di Desa Babakan Gebang, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon.

“Dalam 3 tahun terakhir, suplai bahan baku tebu di pabrik gula PT PG Rajawali II mengalami penurunan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut, menyebabkan pabrik penggilingan tebu tidak optimal dan mengalami kerugian. Sejak 2016, kerugian sudah mencapai Rp 430 juta. Tahun 2017 mencapai Rp 1,5 M. Di tahun 2018 meningkat hingga Rp 5,5 M. Dan di tahun 2019 kerugiannya mencapai Rp 1,5 M,” jelasnya.

Keputusan pembekuan PG Sindanglaut, Erwin menuturkan, manajemen telah menyosialisasikan kepada para petani yang tergabung dalam APTRI dan PPTRI. Pada prinsipnya para petani menerima keputusan manajemen untuk membekukan operasi PG Sindanglaut.

“Namun mereka tetap meminta agar ke depan PG Sindanglaut bisa dioperasikan kembali. Sebagai upaya mempertahankan operasionalisasi pabrik gula, direksi sudah mengirimkan surat ke menteri perindustrian dan menteri perdagangan untuk diberikan quota raw sugar,” tuturnya.

Ditambahkan Erwin, kondisi tersebut menjadi perhatian anggota Komisi IV DPR RI Herman Khaeron bahwa penyebab pabrik gula tidak beroperasi dikarenakan suplai bahan baku tebu yang berkurang.

“Untuk membantu memertahankan pabrik gula tetap beroperasi, komisi IV akan membantu mendorong pemerintah untuk mendapatkan quota raw sugar,” ujarnya.

Masih kata Erwin, dipilihnya PG Tersana Baru karena berbagai pertimbangan. “Seperti Ketersediaan sumber air, peluang meningkatkan kapasitas giling sangat terbuka, kapasitas boiler yang cukup besar ($ 4.000 TCD), penerapan Sistem Monitoring Pabrik berbasis IT (SCADA), serta biaya persiapan pabrik jauh lebih rendah dibanding jika mengoperasikan PG Sindanglaut,” imbunya.

Terkait karyawan PG Sindanglaut, Erwin menyatakan akan tetap memberdayakan karyawan tetap kecuali pegawai kontrak. (rdh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *