PG Sindanglaut Berhenti setelah 122 Tahun Beroperasi

oleh -12.623 views
PG-SIndanglaut-setelah-122-tahun-(1)
TUTUP: Bangunan PG Sindanglaut di Desa Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

Tahun 2020 menjadi akhir perjalanan Pabrik Gula (PG) Sindanglaut. Tidak akan ada lagi suara mesin dan kepulan asap putih dari cerobong pabrik gula warisan Belanda yang beroperasi rutin sejak 1898 atau sudah 122 tahun tersebut.

Laporan: Andri Wiguna, Cirebon

YA, mulai tahun ini operasional PG Sindanglaut berhenti sampai batas waktu yang belum ditentukan. Sekretaris Perusahaan PT PG Rajawali II Erwin Yuswanto menyebut keputusan ini merupakan pilihan sulit yang harus diambil oleh manajemen setelah evaluasi atas perjalanan pabrik gula yang berlokasi di Desa Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, itu.

Terlebih hasil kajian dari LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan) Jogjakarta merekomendasikan kepada PT PG Rajawali II untuk menutup salah satu PG di Cirebon.

“Ini tentu berat buat kami. Apalagi PG Sindanglaut punya historical yang panjang. Tapi keputusan sudah dibuat. PG Sindanglaut tidak akan giling untuk musim giling 2020,” ujarnya, kemarin.

“Kajian dari LPP Jogjakarta menjadi rujukan kita untuk mengambil kebijakan ini. Rekomendasi LPP Jogjakarta, salah satu pabrik harus ditutup. Dasarnya, ketersedian lahan di wilayah kita tak memungkinkan operasional dua pabrik. Akhirnya setelah dilakukan evaluasi, pilihannya adalah tidak melakukan giling untuk musim giling 2020,” lanjut Erwin.

Keputusan tersebut sudah disosialisasikan dengan berbagai pihak. Mulai organisasi petani tebu, tokoh petani tebu, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Pihak manajeman, sambung Erwin, menjamin tidak ada mesin serta alat produksi di PG Sindanglaut yang akan dikeluarkan. Bahkan manajemen akan tetap melakukan perbaikan sambil menunggu waktu PG Sindanglaut akan melakukan giling kembali.

“Berbagai perwakilan terkait pabrik gula sudah kita undang. Sudah kita berikan pemahaman dan sosialisasi. Alhamdulillah, mereka, khususnya para petani, mengerti kondisi pabrik. Tahun ini PG Sindanglaut memang tidak giling. Harapan kita kondisinya membaik dan tahun-tahun berikutnya bisa giling lagi. Makanya alat dan mesin tetap ada di dalam PG Sindanglaut. Untuk tebunya, akan digiling di PG Tersana Baru,” jelasnya.

Dijelaskan Erwin, dari banyak sisi PG Tersana Baru lebih memiliki banyak keunggulan ketimbang PG Sindanglaut. Mulai kapasitas giling yang lebih besar hingga performance PG yang jauh lebih sehat dan bagus jika dibandingkan dengan PG Sindanglaut.

“Beberapa tahun terkahir kit terus mengalami kerugian. Di tahun 2016 rugi Rp430 juta, tahun 2017 sebesar Rp1,5 miliar, tahun 2018 sebesar Rp5,5 miliar dan pada 2019 sebesar Rp1,5 miliar. Kalau secara performance masih bagus PG Tersana Baru. Oleh karena itu, tebu dari wilayah Sindanglaut akan digiling di Tersana Baru,” bebernya.

Erwin pun tak menampik jika akan banyak dampak yang dirasakan terkait berhentinya operasional PG Sindanglaut untuk musim giling tahun 2020. Namun, menurutnya, kelangsungan pabrik sangat erat kaitannya dengan ketersedian lahan. Selama ada lahan, maka pabrik akan terus beroperasi.

“Memang akan terasa dampaknya, tapi mudah-mudahan bisa diminimalisir. Kalau dari pekerja, semua karyawan tetap akan ditarik ke Tersana Baru. Sementara untuk PKWT (Perjanjian Kerja atau Pekerja Kontrak Waktu Tertantu, red) akan diberdayakan sesuai kebutuhan perusahaan. Tapi untuk bagian tanam akan diberdayakan karena area lahan di Sindanglaut masih ada dan luas,” katanya.

Terkait kredit petani dengan perbankan untuk pembiayaan, pihak manajemen mengaku saat ini para petani masih punya kewajiban dengan pihak perbankan sebesar Rp28 miliar yang harus diselesaikan. Pemindahan lokasi giling diklaim tidak akan mempengaruhi hubungan petani dan perbankan.

“Kalau jumlah kredit sekitar Rp28 miliar. Ya tidak ada masalah. Kan yang berubah hanya persoalan lokasi gilingnya saja. Kalau kewajiban yang lain-lain jalan dengan sendirinya,” ungkap Erwin saat ditemui Radar di kantor PT PG Rajawali II Jl Wahidin, Kota Cirebon.

Erwin menjelaskan, jika digabung, maka luas lahan PG Sindanglaut dan PG Tersana Baru akan cukup untuk giling di Tersana Baru. Saat ini luas lahan di PG Sindanglaut sekitar 1.800 hektare dan di PG Tersana Baru sekitar 2.700 hektare. PG Tersana Baru sendiri berlokasi di Babakan Gebang, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon.

“Kita ini baru bisa memasok kebutuhan gula Jawa Barat sekitar 10 persennya. Untuk kita sendiri total yang bisa diproduksi baru sekitar 28 ribu ton. Otomatis kurang. Makanya nanti ada formula mix dengan impor raw sugar. Kalau dengan target yang diberikan dan realisasi, kita butuh impor raw sugar,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan petani tebu Anwar Asmali mengatakan, petani tak punya pilihan lain. Pasalnya, jika diteruskan untuk giling di Sindanglaut, maka potensi hasil yang tidak maksimal dan potensi kerugian yang diderita petani kian tinggi. Hal ini dikarenakan performa PG Sindanglaut yang terus menurun dan tidak adanya perbaikan dari sisi mesin serta alat.

“Kita tidak punya pilihan lain saat ini. Diteruskan giling di Sindanglaut pun tetap rugi. Tapi permintaan kami, tahun ini boleh tidak giling, tahun berikutnya harus giling lagi. Kita beri waktu untuk perbaikan,” kata Anwar Asmali kepada Radar.

Ia pun berharap biaya angkut yang timbul akibat perpindahan lokasi giling tidak dibebankan ke petani. “Saya tidak setuju kalau biaya angkutnya dibebankan kepada petani. Kan yang mita pindah lokasi giling mereka (PT PG Rajawali II, red). Otomatis mereka dong yang nanggung biaya angkutnya,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *